tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-85048914087366294472008-07-29T08:40:00.010+08:002008-08-10T04:33:10.272+08:002008-08-10T04:33:10.272+08:00Berburu laut dalam puisi<span style="font-family:arial;">[Tulisan sumbangan</span>]<br /><span style="font-size:100%;"><br /></span><span style=";font-family:courier new;font-size:130%;" ><em>Sapardi Djoko Damono</em></span> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;" align="right"><span style="font-size:130%;"><br /></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;" align="right"><span style="font-size:130%;">“</span><span style="font-size:130%;"><em>Nenek moyangku orang pelaut.”</em></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;"><span style="font-size:130%;"> </span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;"><span style="font-size:130%;"><br /></span> </p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;"> <span style="font-size:130%;">/i/</span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"> <span style="font-size:130%;">Puisi Indonesia modern ternyata tidak banyak mengandung laut. Diksinya dipenuhi dengan bukit, lembah, sungai, langit, awan, dan berbagai jenis flora yang tumbuh di dataran luas dan lereng-lereng gunung negeri ini. Lagu anak-anak yang larik pertamanya dikutip di awal karangan ini tampaknya diciptakan untuk mengingatkan kita bahwa dahulu nenek moyang kita adalah pelaut yang dengan gagah berani menerjang ombak, melintasi pulau demi pulau sehingga menciptakan pepatah – yang oleh Kenneth Burke disebut </span><span style="font-size:130%;"><em>equipment for living </em></span><span style="font-size:130%;">– “sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Tentu mereka mengayuh dayung di laut, tidak di sungai. Din negeri yang terdiri atas puluhan ribu pulau ini, laut berfungsi sebagai pemisah sekaligus penghubung masyarakat-masyarakat yang tinggal di sana. Kita terpisahkann oleh laut sehingga masing-masing memiliki ruang bebas untuk mengembangkan kebudayaan dan karenanya kita, lebih dari bangsa lain, menjadi </span><span style="font-size:130%;"><em>bhineka.</em></span><span style="font-size:130%;"> Namun, ke-</span><span style="font-size:130%;"><em>bhineka-</em></span><span style="font-size:130%;">an itu sekaligus juga tunggal karena laut menyediakan dirinya untuk diarungi, dijadikan sarana transportasi. Lebih dari itu, laut adalah ladang yang tak perlu digarap bagi nelayan.</span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;"> </span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;">Dalam kitab klasik dan dongeng yang diciptakan nenek moyang kita, laut pernah menjadi alasan untuk hidup. Kisah-kisah kepahlawanan Hang Tuah, petualangan Malin Kundang, dan sejumlah kisah tentang perompak lanun membuktikan bahwa kita memang pernah dihidupi dan menghidupkan laut. Tidak hanya dalam karya yang berifat rekaan, dalam kenyataan pun nenek moyang kita pernah menjelajah pulau-pulau sampai Madagsakar dan Semenanjung Harapan; mereka juga pernah berdagang teripang yang dipanen dari perairan Australia Utara untuk dibawa ke Cina; mereka juga pernah saling mengirimkan armada laut dari Ternate ke Jawa – dan mereka juga menciptakan semboyan </span><span style="font-size:130%;"><em>jalesveva jayamahe </em></span><span style="font-size:130%;">‘di laut kita jaya’ yang kemudian diabadikan oleh Angkatan Laut kita. Tetapi tampaknya semua itu sudah menjadi sejarah; ketika mencari laut dalam puisi modern kita, saya sempat bertanya, “Di mana gerangan laut seperti yang kita temui dalam kehidupan perompak dan pahlawan zaman lampau itu?” Laut, seperti halnya langit, memang sangat sering muncul, tidak sebagai penghayatan tetapi ‘sekadar’ sebagai latar, atau agak lebih jauh lagi sebagai citraan, atau paling-paling sebagai lambang.</span></p><p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;"><a href="http://news.thesatasconnection.org/2008/08/berburu-laut-dalam-puisi.html"><span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;" >Baca selengkapnya: Berburu laut dalam puisi (Sapardi Djoko Damono)</span></a><br /></span></p>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com0