tag:blogger.com,1999:blog-79625387227684546042008-10-19T02:36:37.385+08:00The SaTaS ConnectionThe SaTaS Connection (TSC) adalah jaringan dari semua pihak yang merasa terajak untuk membangun daerah Sangihe, Talaud, dan SiTaRo (SaTaS). Wilayah SaTaS adalah wilayah paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. TSC dibentuk untuk mendiskusikan solusi bersama untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Sangihe, Talaud, dan SiTaRo.The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.comBlogger9125tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-86213857146673528152008-08-22T11:55:00.004+08:002008-10-19T02:36:37.401+08:002008-10-19T02:36:37.401+08:00Sejarah Singkat Kecamatan Tahuna<div style="text-align: justify;">Kami mendapatkan kiriman istimewa dari Saudara Hanny Dumalang berupa naskah yang berjudul Sejarah Singkat Terbentuknya Kecamatan Tahuna. Naskah tersebut ditulis oleh Bapak A.J.Th. Makaminan, Camat Tahuna pada tahun 1978. Naskah singkat ini kami pandang penting karena mencakup sejarah Tahuna sejak Raja I Tahuna, Ansaawuw Alias Tatehewoba (1580 – 1625) sampai masa pemerintahan Bapak A.J.Th. Makaminan sebagai Camat Tahuna tahun 1978.<br /><br />Kami publikasikan melalui Website ini seutuhnya berdasarkan tulisan Beliau yang asli. Kami kutipkan sebagian dari kata pengantar dalam naskah tersebut:<br /><br /><blockquote>"<span style="font-style: italic;">Seperti dimaklumi bersama bahwa hingga saat ini, belum ada suatu literatur khusus yang memuat catatan atau data historis tentang Sejarah terbentuknya Wilayah Kecamatan Tahuna.</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Dan apabila suatu saat ada pihak yang memerlukannya, maka tentunya Instansi pertama dan terutama yang akan didatangi, adalah Pemerintah Wilayah Kecamatan Tahuna.</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Bertolak dari latar belakang pemikiran tersebut, pada akhirnya mendorong kami untuk mulai menghimpun data dan fakta yang relevan bagi upaya penyusunan sebuah brosur sederhana yang mampu mengungkap catatan atau data historis dimaksud.</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Sebab alangkah janggalnya apabila Pemerintah Wilayah Kecamatan Tahuna tidak dapat memenuhi permintaan Pemerintah Tingkat Atas maupun pihak lain yang memerlukan atau datang memintakan data tentang Sejarah terbentuknya wilayah Kecamatan Tahuna itu sendiri.</span><br /><br /><span style="font-style: italic;">Itulah sebabnya, walaupun diliputi keterbatasan waktu, tenaga dan dana kami telah berusaha menerbitkan brosur ini yang diberi Judul Sejarah Singkat Terbentuknya Wilayah Kecamatan Tahuna."</span></blockquote>The SaTaS Connection memutuskan untuk mempublikasikan naskah ini untuk khalayak umum untuk memenuhi amanah seperti yang dipaparkan sendiri di atas oleh yang bersangkutan. Hak Cipta naskah ini adalah atas nama Bapak A.J. Th. Makaminang.<br /><br />Naskah Sejarah Singkat Kecamatan Tahuna selengkapnya dapat di-<a href="http://www.thesatasconnection.org/Sejarah-Tahuna.pdf">download disini</a>.</div>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com7tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-85048914087366294472008-07-29T08:40:00.010+08:002008-08-10T04:33:10.272+08:002008-08-10T04:33:10.272+08:00Berburu laut dalam puisi<span style="font-family:arial;">[Tulisan sumbangan</span>]<br /><span style="font-size:100%;"><br /></span><span style=";font-family:courier new;font-size:130%;" ><em>Sapardi Djoko Damono</em></span> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;" align="right"><span style="font-size:130%;"><br /></span> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;" align="right"><span style="font-size:130%;">“</span><span style="font-size:130%;"><em>Nenek moyangku orang pelaut.”</em></span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;"><span style="font-size:130%;"> </span></p> <p style="margin-bottom: 0cm;font-family:times new roman;"><span style="font-size:130%;"><br /></span> </p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;"> <span style="font-size:130%;">/i/</span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"> <span style="font-size:130%;">Puisi Indonesia modern ternyata tidak banyak mengandung laut. Diksinya dipenuhi dengan bukit, lembah, sungai, langit, awan, dan berbagai jenis flora yang tumbuh di dataran luas dan lereng-lereng gunung negeri ini. Lagu anak-anak yang larik pertamanya dikutip di awal karangan ini tampaknya diciptakan untuk mengingatkan kita bahwa dahulu nenek moyang kita adalah pelaut yang dengan gagah berani menerjang ombak, melintasi pulau demi pulau sehingga menciptakan pepatah – yang oleh Kenneth Burke disebut </span><span style="font-size:130%;"><em>equipment for living </em></span><span style="font-size:130%;">– “sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Tentu mereka mengayuh dayung di laut, tidak di sungai. Din negeri yang terdiri atas puluhan ribu pulau ini, laut berfungsi sebagai pemisah sekaligus penghubung masyarakat-masyarakat yang tinggal di sana. Kita terpisahkann oleh laut sehingga masing-masing memiliki ruang bebas untuk mengembangkan kebudayaan dan karenanya kita, lebih dari bangsa lain, menjadi </span><span style="font-size:130%;"><em>bhineka.</em></span><span style="font-size:130%;"> Namun, ke-</span><span style="font-size:130%;"><em>bhineka-</em></span><span style="font-size:130%;">an itu sekaligus juga tunggal karena laut menyediakan dirinya untuk diarungi, dijadikan sarana transportasi. Lebih dari itu, laut adalah ladang yang tak perlu digarap bagi nelayan.</span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;"> </span></p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;">Dalam kitab klasik dan dongeng yang diciptakan nenek moyang kita, laut pernah menjadi alasan untuk hidup. Kisah-kisah kepahlawanan Hang Tuah, petualangan Malin Kundang, dan sejumlah kisah tentang perompak lanun membuktikan bahwa kita memang pernah dihidupi dan menghidupkan laut. Tidak hanya dalam karya yang berifat rekaan, dalam kenyataan pun nenek moyang kita pernah menjelajah pulau-pulau sampai Madagsakar dan Semenanjung Harapan; mereka juga pernah berdagang teripang yang dipanen dari perairan Australia Utara untuk dibawa ke Cina; mereka juga pernah saling mengirimkan armada laut dari Ternate ke Jawa – dan mereka juga menciptakan semboyan </span><span style="font-size:130%;"><em>jalesveva jayamahe </em></span><span style="font-size:130%;">‘di laut kita jaya’ yang kemudian diabadikan oleh Angkatan Laut kita. Tetapi tampaknya semua itu sudah menjadi sejarah; ketika mencari laut dalam puisi modern kita, saya sempat bertanya, “Di mana gerangan laut seperti yang kita temui dalam kehidupan perompak dan pahlawan zaman lampau itu?” Laut, seperti halnya langit, memang sangat sering muncul, tidak sebagai penghayatan tetapi ‘sekadar’ sebagai latar, atau agak lebih jauh lagi sebagai citraan, atau paling-paling sebagai lambang.</span></p><p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;font-family:times new roman;" align="justify"><span style="font-size:130%;"><a href="http://news.thesatasconnection.org/2008/08/berburu-laut-dalam-puisi.html"><span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;" >Baca selengkapnya: Berburu laut dalam puisi (Sapardi Djoko Damono)</span></a><br /></span></p>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-76884826250653375392008-07-29T08:25:00.005+08:002008-08-10T04:34:22.740+08:002008-08-10T04:34:22.740+08:00PEREMPUAN BUKAN TAWANAN POLITIK - Interpretasi Kisah Putri Maemuna Kerajaan Tabukanoleh: Pitres Sombowadile<br /><br /><div style="text-align: justify;">MEMILIH calon pasangan hidup bukan sekadar soal hidup. Namun, perkara hidup-mati. Ini bukan perkara enteng, apalagi sepele. Karena, perkawinan ibarat membuat peta nasib ke masa depan. Makanya, calon pendamping ke dalam mahligai perkawinan harus diseleksi cermat dan seksama. Soalnya banyak bukti, suami dan istri dalam perkawinan bisa jadi berkat atau kutuk bagi pasangannya. Perkawinan bisa jadi tapak awal ke arah Eden. Namun, jika salah pilih pasangan malah menuju azab sengsara. Bahkan pusara.<br /><br />Sialnya, bagaimana memilih pasangan yang dapat mendatangkan berkat, sejauh ini, tidak jelas. Demikian pula, bagaimana membaca tanda-tanda pasangan pembawa kutuk. Tak jarang, apa yang kadung diyakini sebagai berkat, ternyata kutuk jua. Apa daya, surga telah jadi bubur. Maksudnya, bubur lava neraka.<br /><br />Mengantisipasi ketidakpastian itu, di kurun modern penentuan pilihan pasangan ke tahap perkawinan galib diserahkan sebagai wilayah pilihan pihak-pihak yang akan kawin. Ini kebijaksanaan khas zaman modern. Karena memang, jelas keduanya, baik calon pengantin laki maupun yang perempuan jualah yang akan menjalani dan mengalami langsung segenap detak-detik takdir langsung perkawinan itu.<br /><br />Bagi perempuan modern kini, biasanya, pilihan itu dominan akan didasarkan pada kualitas relasi batin dengan calon suaminya. Relasi itulah yang lazim disebut, cinta. Yaitu, paduan unik jatuh hat, simpati dan empati.<br /><br />Dalam rumusan lain, di masa modern soal memilih pasangan adalah hak calon pengantin. Hak itu muncul sebagai dampak kebebasan manusia. Sedang cinta tak lain adalah anak kandung kebebasan itu. L’amour est l’enfant de liberté, kata orang Perancis.<br /><br />Sayangnya kebebasan cinta sebagai hak perempuan merdeka itu tidak dinikmati Maemunah, puteri raja Tabukan nan cantik jelita di abad ke-17. Puteri Maemuna tidak diberi kesempatan menentukan lelaki idaman pendamping hidupnya. Karena dia semata harus tunduk saja pada putusan final ayahnya, Raja Gagudha (garuda) atau dikenal sebagai Raja Udha.<br /><br />Bagi kita di abad ke-21 kini, nasib Maemuna empat abad lalu itu tak jauh dari takdir perangkap perkawinan yang menjerat seorang tokoh perempuan mulia Indonesia -- yang demikian mentereng disebut oleh W.R. Supratman, Dr. Hurustiati Subandtio dan Pramoedya Ananta Toer sebagai pendekar wanita Indonesia -- yaitu Raden Ajeng Kartini. Puteri Jawa flamboyan dan intelek yang hidup di akhir paruh abad ke- 19. Kartini juga masuk ke lembaga perkawinan atas pilihan orang lain, ayahnya: Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroninggrat.<br /><br />Jelaslah dulukala memang pilihan kawin, apalagi bagi perempuan, dianggap wilayah otoritas orang lain, yaitu orangtua dan terutama kaum lelaki. Apalagi bagi seorang penguasa semacam Raja Udha di Tabukan. Para raja zaman itu lazim berpikir bahkan putrinya adalah teritori kekuasaannya. Perempuan harus takluk.<br /><br />Namun apakah Maemunah sekadar berserah pada lilitan nasib diri dan takdir zaman itu? Itu yang jadi pokok berita dan cerita masa lalu ini.<br /><br /><br />KISAH KEDATANGAN SULTAN SIBORI<br /><br />Terkisah pada pertengahan 1675 berkunjunglah Sultan Sibori dari Ternate ke istana Kerajaan Tabukan di pesisir Utara pulau Sangihe. Dari laut pasir putih pantai Sahabe depan karatung2 raja Tabukan berkilau diterpa sinar matahari pagi. Puluhan perahu kora-kora Maluku dan beberapa kapal dengan logo besar VOC serta bendera Belanda berkibar di tiang utama muncul di perairan Utara pulau Sangihe.<br /><br />Istana Tabukan terlihat dari laut. Berdiri di perkampungan Sahabe. Bangunan istana itu berupa rumah panggung besar dengan sebuah tangga depan. Anak tangganya sembilan. Tiang besar penopang rumah panggung itu juga berjumlah sembilan. Istana itu khusus dibuat menampung ratusan orang pada bangsal utamanya. Di belakang istana itulah terlihat pemandangan gunungapi Posong alias Awu Sangihe.<br /><br /><a href="http://news.thesatasconnection.org/2008/08/perempuan-bukan-tawanan-politik.html">Baca selengkapnya: PEREMPUAN BUKAN TAWANAN POLITIK - Interpretasi Kisah Putri Maemuna Kerajaan Tabukan </a></div>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-88880784012584607862008-07-29T07:01:00.007+08:002008-08-10T04:38:54.314+08:002008-08-10T04:38:54.314+08:00Sekilas Kerajaan Siau dan Raja Jacob Ponto<p>oleh: Pitres Sombowadile </p><p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"><strong>KERAJAAN</strong> Siau adalah salah satu kerajaan nusantara yang pernah eksis selama lebih 4 abad, yaitu sejak pembentukannya di tahun 1510. Masa akhirnya dapat diajukan pada tahun 1956, yaitu setelah penguasa kerajaan ke-25, yaitu Presiden Pengganti Raja Siau Ch. David, mangkat. </p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Pusat kerajaan ini berada terletak di pulau Siau (02<sup>o </sup>45’ 00’’ LU dan 125<sup>o</sup> 23’ 59’’ BT) yang kini di wilayah Kabupaten Sitaro. Tepatnya merupakan salah satu kabupaten di perbatasan Utara Indonesia di Laut Sulawesi ke wilayah laut Filipina. Pulau ini hanya berukuran luas tak lebih 100 Km2. </p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Namun dalam kiprahnya kerajaan ini pernah mencakup daerah-daerah di bagian selatan Sangihe, pulau Kabaruan (Talaud), pulau Tagulandang, pulau-pulau teluk Manado dan wilayah pesisir jazirah Sulawesi Utara (Minahasa Utara), serta ke wilayah kerajaan Bolangitan atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara) bahkan berekspansi armada lautnya sampai ke Leok Buol dan Makassar. Kerajaan ini dalam berbagai catatan Belanda dan sejarahwan lokal di Manado, H.M. Taulu, pernah mengusir armada Kerajaan Makassar yang menduduki wilayah Bolaang Mongondow. Tidak terhitung juga menghalau para armada perompak asal Mindanao<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="http://news.thesatasconnection.org/index.php?option=com_content&view=article&id=6:sekilas-kerajaan-siau-dan-raja-jacob-ponto&catid=6:artikelbebas&Itemid=6#sdfootnote1sym" title="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></sup>.</p> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify">Meskipun wilayahnya kecil dan tidak dikenal banyak orang Indonesia tetapi kerajaan ini pernah memegang peran di bagian Utara dan Timur Indonesia. Hubert Jacobs, S.J. yang terkenal dengan rangkuman serial sejarah wilayah Indonesia Timur <em>Documenta Maluciensis, </em>pernah juga membahas kerajaan ini. Jacobs memulai tulisannya dengan uraian mengutip perkataan seorang filsuf, ‘’kadang-kadang barang terkecil merupakan yang paling sulit direngkuh’’. Begitu analogi Jacobs atas kerajaaan kecil Siau ini di tulisannya.<sup><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote2anc" href="http://news.thesatasconnection.org/index.php?option=com_content&view=article&id=6:sekilas-kerajaan-siau-dan-raja-jacob-ponto&catid=6:artikelbebas&Itemid=6#sdfootnote2sym" title="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></sup> Mungkin karena Belanda pernah kesulitan hendak mencaploknya karena kerajaan ini dilindungi Spanyol yang berpusat di Manila (Filipina).</p><p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; text-align: left;"><a href="http://news.thesatasconnection.org/2008/08/kronologis-perjuangan-talaud-selayang.html">Baca selengkapnya</a><a href="http://news.thesatasconnection.org/2008/08/kronologis-perjuangan-talaud-selayang.html">: Sekilas Kerajaan Siau dan Raja Jacob Ponto</a><br /></p>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-32694619008786800842008-07-19T01:34:00.000+08:002008-07-19T01:37:08.045+08:002008-07-19T01:37:08.045+08:00Masyarakat perbatasan Sangihe tak pernah nikmati subsidi BBM<table class="contentpaneopen"><tbody><tr> <td colspan="2" valign="top"> <!-- @page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --><span><strong>DEMO</strong></span><span><strong>NTRASI</strong></span><span> protes kenaikan harga BBM masih mungkin terus berlangsung di Jakarta. Tetapi, masyarakat di pulau-pulau perbatasan Indonesia-Filipina sekadar geram saja melihatnya di televisi. Sayang mereka tidak tahu bagaimana cara mengorganisir demo protes BBM yang khas di pulau mereka di Marore, Matutuang, Kawio dan Kawaluso. ‘’Padahal justru selang dua puluh tahun mereka praktis tidak menikmati minyak tanah murah dan mudah didapat,’’ ujar Pitres Sombowadile pengamat perbatasan Indonesia-Filipina di sela-sela diskusi ‘</span><span><em>’Kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro: Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan’’</em></span><span> yang ditulisnya bersama dengan Winsulangi Salindeho yang kini bupati Kabupaten Sangihe.</span> <p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"><span>Masyarakat perbatasan </span><span>di pulau-pulau terdepan itu, khususnya di pulau Marore, pernah mengungkap keluh kesah soal BBM itu ke pemerintah daerah. Termasuk meminta tolong berbagai pejabat, ke gubernur Sulawesi Utara S.H. Sarundajang saat perkunjungan resmi ke pulau tapal batas itu. Tapi, perbaikan belum menampak jua di lapangan. Upaya pemerintah kabupaten Sangihe meminta agen penyaluran minyak tanah menyediakan perahu khusus untuk melayani pulau-pulau kini terkendala oleh tingginya biaya penyediaan perahu dan operasionalnya.</span></p> </td> </tr> <tr> <td colspan="2"> <a href="http://news.thesatasconnection.org/index.php?option=com_content&view=article&id=2:subsidibbmperbatasan&catid=1:liputanutama" class="readon"> Baca selengkapnya di Berita Satas . . .</a><br /></td></tr></tbody></table>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-4998393421901383592008-07-17T03:32:00.000+08:002008-07-19T01:38:27.237+08:002008-07-19T01:38:27.237+08:00Kronologis perjuangan Talaud: selayang pandangOleh : Bpk. Drs Yos Marthinu<br /><br />PRAKATA<br />Terbentuknya kabupaten Talaud, merupakan klimaks dari suatu rangkaian panjang proses perjuangan selama setengah abad dari putra-putri terbaik Porodisa Talaud. Proses inipun merupakan kelanjutan dari perjuangan generasi-genegrasi sebelumnya, demi mempertahankan dan menegakan kedaulatan wilayah terhadap rongrongan dari luar.<br /><br />Perjuangan ini diilhami oleh ungkapan bahwa Kepulauan Talaud merupakan “Udha Makatraya” atau “Payung Utara” bagi kerajaan Majapahit (1290 – 1520) dalam buku Atlas Sejarah, karangan Moh. Yamin, SH. Ungkapan ini memberikan inspirasi bagi perjuangan Talaud untuk menjadikan Talaud sebagai “Payung Utara” Republik Indonesia dalam status daerah otonomi Tingkat II atau Kabupaten.<br /><br />Baca selengkapnya di <a href="http://news.thesatasconnection.org/index.php?option=com_content&view=article&id=1:kronologitalaud&catid=6:artikelbebas&Itemid=6">The SaTaS Connection News</a>The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-54840425384214841722008-07-13T07:05:00.000+08:002008-07-13T07:19:24.229+08:002008-07-13T07:19:24.229+08:00News Flash: Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan<a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.thesatasconnection.org/2008/07/Cover.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: center; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.thesatasconnection.org/2008/07/Cover.jpg" alt="" border="0" /></a><br />Telah terbit buku tulisan dari Winsulangi Salindeho dan Pitres Sombowadile: Daerah Perbatasan, Keterbatasan, Pembatasan. Nukilan 2 bab pertama dari buku tersebut kami muat seutuhnya dalam Blog ini.<br /><br />Bab pertama <a href="http://www.thesatasconnection.org/2008/07/kawasan-sangihe-talaud-sitaro.html">Kawasan Sangihe-Talaud-SiTaRo</a> kami anggap penting untuk dinukilkan disini karena memberi gambaran umum tentang kawasan tersebut dan permasalahannya.<br /><br />Bab kedua <a href="http://www.thesatasconnection.org/2008/07/nusa-utara-kancah-bangsa-bangsa.html">Nusa Utara Kancah Bangsa-bangsa</a> kami nukilkan juga sebagai pengantar pemahaman sejarah kawasan SaTaS.<br /><br />Untuk pembaca yang ingin menikmati isi buku tersebut sepenuhnya, buku tersebut dapat diperoleh di Toko Buku Gramedia terdekat.The SaTaS Connectionhttp://www.blogger.com/profile/09341710391332839633noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-7962538722768454604.post-59229558461520968562008-07-13T06:16:00.000+08:002008-07-13T06:59:21.717+08:002008-07-13T06:59:21.717+08:00Kawasan Sangihe-Talaud-SiTaRo<!-- @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --><p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>KAWASAN</b><sup><span style="font-size:78%;">1 </span></sup>Sangihe-Talaud-Sitaro adalah sebutan untuk bentangan laut dengan ratusan pulau yang terletak di ujung paling Utara Indonesia. Di atas peta, kawasan ini terbagi dalam dua kepulauan, yaitu: Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Keduanya terhampar di Laut Sulawesi yang berbatasan langsung ke negara tetangga Filipina. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dan, sejak pertengahan tahun 2007, secara administratif kawasan ini terbagi ke dalam tiga daerah otonom, yaitu: Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud dan Kabupaten Kepulauan Sitaro. Nama kabupaten terakhir sahajanya tidak merujuk pada sebuah nama peta (toponim), namun akronim pulau-pulau utama pembentuknya: <b>Si</b>au, <b>Ta</b>gulandang dan Bia<b>ro</b>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Ketiga kabupaten ini masuk dalam lingkup Provinsi Sulawesi Utara, dengan ibukotanya masing-masing: Tahuna<sup><span style="font-size:78%;">2</span></sup> (Sangihe), Melonguane (Talaud) dan Ondong (Sitaro). </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Jumlah pulau di kawasan ini kini ‘<i>tak kurang dari’ </i>168 buah<sup><span style="font-size:78%;">. </span></sup>Ada alasannya, mengapa perlu menaruh frase ‘<i>tak-kurang-dari</i>’’ pada kalimat tadi. Soalnya, jumlah pulau kawasan ini menurut kajian berbagai dokumen dari waktu ke waktu ternyata angkanya silih berganti. Itu membuat , setiap angka yang diacu pada kini pantas diragukan: jangan-jangan kemudian hari berubah drastis.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Angka 168 sekadar patokan saja. Angka ini adalah hasil identifikasi dan verifikasi pulau penetapan pulau-pulau Se Provinsi Sulawesi Utara 27 Juni 2007. Sebelum angka ini, berbagai laporan media massa, ulasan buku dan dokumen resmi pemerintah kadung membeber jumlah lebih kecil.Misalnya, dalam tulisan tentang peri kejayaan Kerajaan Siau pada kurun Portugis-Spanyol di kawasan SaTaS (1563-1677), menyebut jumlah total pulau adalah 73 buah<sup><span style="font-size:78%;">3</span></sup> Sedang, dokumen bangsa penjajah sesudahnya, yakni selang masa administrasi pemerintahan Hindia Belanda tepatnya pada tarikh 1912<sup><span style="font-size:78%;">4</span></sup>, diperikan jumlah yang hanya 66 pulau saja. Lantas pada lampiran Kamus Bahasa Belanda-Sangihe karangan misionaris K.G.F. Steller dan W.E. Abersold disebutkan sejumlah 56 buah. Untung kemudian naik jadi 70 pulau dalam buku misionaris lain, Daniel Brilman, pada tahun 1938.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Uraian kembang-kempis angka itu juga terjadi pasca masa kemerdekaan. Media massa kurun 1970-1980, terutama di Sulawesi Utara, populer menjuluki kawasan ini sebagai ‘Kawasan 77 Pulau<sup><span style="font-size:78%;">5</span></sup> Namun,taklama sesudahnya, diralat menjadi ‘Kawasan 99 pulau<sup><span style="font-size:78%;">6</span></sup>. Kemudian cukup lama jumlah standar yang dipakai adalah 124 pulau, yaitu hingga tahun 2003.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sesudah ditetapkan 124 pulau, pasang-surut jumlah itu masih terus berlanjut. Pada awal 2007 (5 tahun pasca pemekaran pemerintahan lokal gelombang pertama) pihak-pihak berkompeten di Kabupaten Talaud menyatakan memiliki 18 pulau. Sedangkan, Kabupaten Sangihe mengklem — sebelum pemekaran gelombang kedua yang menghasilkan Kabupaten Sitaro — punya koleksi 112 pulau. Artinya, jika dijumlahkan Kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro (SaTaS)<sup><span style="font-size:78%;">7 </span></sup>memiliki 130 pulau. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Tapi, sebuah terbitan Bank Dunia,<sup><span style="font-size:78%;">8</span></sup> yang membahas tentang Talaud malah mencantumkan Kabupaten Talaud mempunyai 20 pulau, yang artinya, serta merta jumlah total pulau di kawasan ini berkembang ke jumlah, 132 pulau. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Jelaslah, atas dasar beberan data jumlah pulau itu, terbukti bahwa dalam kurun lama jumlah total pulau kawasan SaTaS mengalami pasang-surut. Kuat diduga hal itu terjadi, karena memang sebelum tahun 2003 persepsi dan definisi ‘pulau’ tidak pernah ‘ditala senada’ di antara semua pihak pemerintah yang berkompeten. </span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Untunglah, fenomena macam ini bukan semata terjadi di tingkat lokal, namun juga tingkat nasional. Karena, jumlah pulau negara Indonesia pun dari waktu ke waktu kembang-kempis. Awalnya, dari patokan 13.667 pulau, dan sesudahnya ditolok pada angka 17.508 pulau. Entahlah ke depan hari, akan berapa? Yang jelas pada akhir tahun 2002 sudah berkurang dua pulau (Ligitan dan Sipadan). </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>ATOL DAN PULAU GUNUNGAPI </b> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Pasang-surut jumlah pulau tadi bisa pula terjadi sebagai akibat pertumbuhan dan penyusutan pulau secara riil. Ini pantas dikemukakan, karena kawasan SaTaS punya karakteristik geologis khas. <i>Pertama</i>, kawasan ini punya banyak gugusan karang (<i>atoll) </i>di dasar laut<i>. Kedua</i>, di kawasan ini terdapat banyak gunungapi termasuk di gunungapi bawah laut<i>. Ketiga, </i>tepat di kerak bumi kawasan ini terjadi proses subduksi (perbenturan) lempeng-lempeng tektonik, yaitu:lempeng Pasifik, Filipina, Australia dengan patahan serta busur lokalnya.<sup><span style="font-size:78%;">9</span></sup> Tiga fenomena alam ini, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama sangat potensial mencipta pertambahan dan penyusutan jumlah pulau. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Khusus untuk <i>atoll</i>, secara tradisional orang-orang kawasan SaTaS punya pemahaman tradisional bahwa bentuk muka bumi ini (apa yang lazim disebut sebagai ‘<i>napo</i>’<sup><span style="font-size:78%;">10</span></sup> akan perlahan bergerak naik ke atas permukaan laut. Pengetahuan lokal tentang hakikat pulau karang terkukuhkan lewat beberapa hasil penelitian Peter Bellwood. Memang professor arkeologi terkenal ini pernah membuat riset sejarah alam dan jejak-jejak kehidupan prasejarah di beberapa <i>spot </i> kawasan SaTaS, secara khusus di Talaud tahun 1975. Dari telisikan atas gua Liang Tuwo Manee di Talaud, Bellwood mengurai gua ini sebagai ‘’<i>...rock shelter in an uplifted coastal block of coral limestone...</i>” (gua perlindungan kapling batuan karang yang terangkat ke atas)<sup><span style="font-size:78%;">11</span></sup>. Kutipan kecil dari laporan studinya itu seolah meneguhkan pengetahuan tradisional masyarakat SaTaS ihwal eksistensi salah satu asal pulau, yaitu batuan karang.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kecepatan pertumbuhan karang ke permukaan laut sangat tergantung berbagai proses kimiawi dan fisis nan rumit. Yang jelas setelah bertumbuh lewati titik surut laut terendah, beting karang itu akan disebut <i>low tide elevation. </i>Dan, <i> </i>jika melewati titik pasang air laut tertinggi, yang artinya karang itu sudah permanen terlihat di permukaan laut, maka akan layak disebut sebagai ‘pulau’. Karena sesuai UNCLOS 1982 (<i>United Nations Convention on The Law of The Sea</i>) yaitu pada pasal 121 ayat 1 diuraikan definisi ‘pulau’ sebagai, ‘’<i>...luasan tanah yang secara alamiah terbentuk, dikelilingi air, yang berada di atas permukaan air pada pasang tinggi</i>...”<sup><span style="font-size:78%;"><b> </b></span></sup><sup><span style="font-size:78%;">12</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Contoh cuatan terumbu karang kawasan SaTaS yang telah mapan disebut sebagai pulau definitif adalah ‘Pasige’, alias Passighi atau juga Passiak. Ini pulau karang yang terletak tak jauh dari pulau gunung api Ruang (714 m dpl) dan pulau Tagulandang. Dokumen <i>Mededelingen van Het Bureau Voor De Bestuurszaken Der Buitenbezittingen Aflering II </i>tahun 1912, (selanjutnya dalam buku ini disingkat saja menjadi <i>Mededeelingen 1912)</i>, mendeskripsikan Pasige sebagai ‘’<i>6.5 K.M ten westen van Tahoelandang ligt het lage en vlakke eilandje Pasige, dat in zekeren zin als een atol te beschouwen is. Hier word veel visch en ook tripang gevangen. Het einlandje is onbewoond</i>”. Atau ‘’terletak 6,5 Km di arah Barat pulau Tagulandang terletak pulau kecil rendah dan datar, yang dipastikan sebagai atol. Di sini disebut banyak ditangkap ikan dan teripang. Pulau ini tidak dihuni.’’</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kecepatan pertumbuhan pulau karang bisa melebihi laju pergeseran patahan bumi. Artinya bisa melebihi 5-7 cm/tahun. Laju pergeseran lempeng tektonik memang relevan untuk dijadikan acuan, karena memang nun jauh di bawah wilayah laut dan daratan SaTaS menurut para ahli sedang terjadi pergerakan tektonik piringan Sangihe (<i>Sangihe plate</i>) yang sangat intensif. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Piringan lokal itu menurut kajian para ahli sedang bergerak perlahan ke Timur, sembari menindih piringan lainnya. Adapun, piringan Halmahera (<i>Halmahera plate</i>), yang ‘menderita’ tertindih itu, sebaliknya bergeser perlahan ke arah Barat. Proses tumbukan kedua piring itu, di antaranya, melahirkan kemunculan gunungapi di sekitarnya. Dan, memang kenyataaannya kawasan SaTaS dan Maluku Utara bertabur masing-masing 5 gunungapi aktif. Bahkan sebuah survei kelautan LIPI Juni 2001 yang mempergunakan kapal riset canggih Baruna Jaya VIII yang memuat para peneliti dari berbagai negara ditemukan rangkaian 15 gunungapi di bawah laut di Kawasan SaTaS. <sup><span style="font-size:78%;">13</span></sup> Jumlah ini jelas mencolok. Karena, lazimnya, yang disebut paling banter dua saja. Satu di antaranya yang dinamakan Mahangetang (<i>Banua Wuhu</i>), yaitu gunungapi bawah laut, yang menjadi salah satu objek wisata selam. Gunungapi bawahkaut ini dulu diurai dalam beberapa laporan zaman Belanda pernah nongol sampai setinggi 12 meter di atas permukaan laut. Hal itu jelas dulu memenuhi syarat disebut sebagai ‘pulau sesuai kriteria UNCLOS 1982. Sayang, kemudian tudung atas pulau gunungapi itu lenyap saat terjadi letusan. Artinya, pulau itu hilang.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Patut diimbuhkan di sini, terkait rentetan gunungapi bawah laut itu para peneliti di Baruna VIII tadi juga menguak potensi besar deposit logam ekonomis, yaitu emas, perak, tembaga, seng dan timbal, di sekitarnya. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Yang jelas sebagaimana halnya pergerakan <i>napo</i> ke permukaan laut, gunungapi bawah laut juga bergerak perlahan dan kelak akan menyembul ke permukaan. Yang karena itu ‘berhak’ menyandang predikat ‘pulau baru’. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Di samping tipe pulau karang<i>, </i>banyak pulau kawasan SaTaS merupakan pulau tipe gunungapi (vulkanik). Contohnya adalah pulau gunungapi Ruang. Secara luas pulau gunungapi ini dicatat para pelaut pengembara Eropa yang tiba di tempat ini pada kurun abad ke-18. Penduduk lokal Tagulandang menceritakan pada mereka mulanya gunungapi ini hanya pulau karang saja. Namun di tengahnya kemudian muncul lekukan besar yang selanjutnya ‘bertumbuh’ menjadi gunungapi. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Keberadaan Ruang sebagai gunungapi muncul dalam laporan seorang pengembara bangsa Perancis Gemello Carreri dalam bukunya <i>Vogage Nutour du Monde (</i>Perjalanan Mengelilingi Bumi) yang terbit di Paris 1719. Menurut buku itu, sudah sejak abad ke-17 Ruang merupakan gunungapi aktif.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Contoh lain lagi adalah pulau Siau. Pulau ini nyaris selalu diidentikkan dengan gunungapi pada puncaknya yang setinggi 1.784 m di atas permukaan laut itu. Gunungapi Karangetang, demikian namanya. Gunungapi ini tercatat merupakan salah satu gunungapi paling aktif di dunia. Api di puncaknya terus menyala. Pada malam saat cuaca cerah akan tampak seolah kembang api abadi di angkasa. Karenanya, sejak lama menjadi patokan pelayaran, terutama di malam hari.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dari pulau Siau ke Utara ada contoh pulau vulkanik lain, yaitu pulau Sangihe Besar. Di pulau ini ‘bertahta’ gunungapi Awu (1.320 m). Gunungapi ini dulu disebut <i>Awu Sangihe </i>atau di zaman kolonial Belanda pernah dikenal sebagai <i>Aschberg</i>. Letusan gunung api ini tercatat termasuk kelompok yang paling berbahaya di Indonesia selain Gunung Kelud di pulau Jawa<sup><span style="font-size:78%;">14</span></sup>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Dalam catatan orang lokal gunung ini sangat mengerikan rekornya. Berkali letusannya mampu memporanda beberapa kerajaan. Akibat letusannya pernah sebagian kerajaan Kendahe (Maselihe) hancur lebur dan lenyap tenggelam ke laut. Ibukota kerajaan dan penduduk yang tersisa harus dipindahkan, sedang raja yang gugur diganti saudaranya yang dipanggil pulang dari Mindanao (Filipina). </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Awu, kelakarnya pantas disebut gunung api yang ‘’membubarkan dan melahirkan knegara/kerajaan” dalam hikayat raja-raja pulau Sangihe. Sama dengan simpulan Carl Bern Kaehlig <i>et.al </i>yang memberi judul buku mereka tentang gunung-gunung api Indonesia sebagai, ‘’<i>Indonesian Volcanoes: The Creator, The Destroyer</i>” (Gunungapi Indonesia: Sang Pencipta, Sang Pemusnah).</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Ada juga pulau yang bila dibedah jati-geologisnya dulunya adalah gabungan ciri-ciri vulkanik dan <i>napo</i>. Karakelang di Talaud mungkin pantas dimasukkan ke sini. Karena, pesisir Timur pulau terbesar kawasan SaTaS ini adalah batuan ultramafik yang membentuk Gunung Piapi. Tanah sekitar gunung ini dilaporkan mengandung magnesium, kalsium dan nikel yang tinggi. Di sini tahun 1991 ditemukan tumbuhan akumulator nikel <i>Rinorea</i> sp<i>.</i><sup><span style="font-size:78%;"><i>15</i></span></sup><i>. </i>Namun, justru tepat di tengah pulau ini yaitu di Beo terdapat batugamping koral, yang tak lain adalah ciri <i>napo</i>. Di irisan tanah ini ditemukan hewan bercangkang moluska.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Karena berbagai fenomena tektonik dan geologisnya, kawasan SaTaS masuk kategori wilayah yang sedang bertumbuh dan bersifat tidak stabil. Karena itu, soal jumlah pulau di kawasan ini patutnya tidaklah dipegang fanatik. Tentu ini tidak hendak menafikan pekerjaan pendataan jumlah pulau dalam kerangka menjaga bentangan kesatuan dan keutuhan wilayah Indonesia. Malah hendak ditegaskan agar setiap gerak pertumbuhan <i>napo</i> dan pertumbuhan gunungapi kawasan harus dilacak. Perhatian itu akan mengantisipasi ‘hilangnya’ bahkan ‘mencuatnya’ pulau sebagai akibat peristiwa tektonik.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dari kepentingan geostrategi Indonesia, jumlah pulau Indonesia di kawasan perbatasan tidak boleh berkurang. Apalagi untuk pulau-pulau terdepan yang menjadi acuan garis pangkal wilayah teritorial laut dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seperti pulau Miangas (dengan gugusan kepulauan Nanusa di Kabupaten Talaud); pulau Marore (dengan ‘gerombolnya’ di Kabupaten Sangihe) serta pulau Makalehi (dekat pulau Siau di Kabupaten Sitaro) yang pernah disebut <i>Maquillere</i> oleh F. Valentijn (terletak dekat pulau Siau di Kabupaten Sitaro).</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>ANCAMAN PULAU TAK DIHUNI </b> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Dari jumlah 168 jumlah pulau tahun 2007 ternyata diungkapkan ada 123 pulau masuk kategori ‘tidak berpenghuni’. Yaitu, 79 berada di Kabupaten Sangihe, 9 di Kepulauan Talaud dan 35 di Kabupaten Sitaro. Bahkan, banyak belum punya nama resmi. Kenyataan ini jelas penting disikapi. Bukan lagi pada tataran geologi, namun geografi. Karena fakta ini jelas akan berpengaruh pada aspek geosekuriti Indonesia. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Terkait pulau-pulau tak bernama itu, Indonesia sepantasnya risau akan manuver pihak asing yang potensial memanfaatkannya, misalnya dijadikan tempat singgah<i> </i>dalam operasi penangkapan ikan. Dan nanti pada rentang waktu tertentu pihak itu bisa mengklem kepemilikan atasnya. Yaitu, atas alasan telah menyelenggarakan kedaulatannya secara efektif dan damai di situ. Ini pengalaman buruk Indonesia dengan kasus Sipadan dan Ligitan. Kerisauan semacam itu ‘meletup’ dalam buku O.C. Kaligis, ‘<i>Sengketa Sipadan dan Ligitan, Mengapa Kita Kalah’</i><sup><span style="font-size:78%;"><i>16</i></span></sup>.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Namun, membahas soal pulau tak bernama di wilayah Sangihe-Talaud-Sitaro, mohon pembaca tak keliru memahami seolah pulau-pulau di perbatasan Utara itu tidak diberi nama orang-orang lokal. Tidak. Tidak begitu. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Karena, orang Sangihe dan Talaud hakikinya telaten memberi nama-nama patokan geografis (toponim). Bukan saja untuk pulau-pulau dalam lingkungan kehidupannya, namun juga semua <i>napo</i> tempat penangkapan ikan<sup><span style="font-size:78%;">17</span></sup>. Bahkan juga memberi nama untuk ‘kapling’ wilayah ulayatnya di laut dengan berpatokan pada titik <i>fixed</i> dan titik imajiner di darat atau benda langit. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Masyarakat Sangihe-Talaud-Sitaro adalah satu dari antara bangsa pelaut handal yang menurut kajian A.B. Lapian mampu mengembangkan budaya maritim yang tinggi. Di antaranya, dibuktikan dengan perbendaharaan jenis-jenis perahunya yang sampai 18 bentuk. Juga mengenal penanggalan bulan (<i>lunar-calendar </i>), dengan 28 nama hari berbeda. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Karena itu, terasumsikan, penguasaan tempat-tempat di laut pasti cermat dilakukan. Terutama oleh masyarakat di desa-desa pesisir. Memang galib dalam konsep wilayah pantai orang SaTaS, semua pulau kecil, <i>napo-napo</i> maupun perairan laut sekitar pemukiman merupakan bagian utuh desa.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Penguasaan ruang ini dapat ditemui di pulau-pulau Nanusa (Talaud); juga di pulau-pulau kecil antara pulau Siau dan pulau Sangihe Besar. Pun pada beberapa desa di daratan pulau Sangihe Besar. Malah acap terjadi, sebuah pulau atau wilayah laut diklem oleh dua atau tiga kampung bersama-sama. Karena itu, konflik klem sumberdaya pesisir bisa meledak dan merebak. Itu sudah terjadi beberapa kali, misalnya antara penduduk pulau Para dan pulau Mahangetang. Jadi, perlu ditandaskan soal pulau-pulau belum bernama itu, yang dimaksud adalah belum adanya nama-nama peta atau nama kartografi resmi . </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Ungtunglah terkait penamaan pulau-pulau itu, Departemen Dalam Negeri Indonesia telah mengirimkan edaran agar daerah-daerah kepulauan dapat memasukkan nama lokal pulau-pulau wilayahnya sebagai input nama peta resmi. Itu dilakukan sejak tahun 2003. Tahun ini memang dikenang sebagai tahun ‘kelam’ Indonesia kalah terhadap Malaysia dalam sengketa kepemilikan pulau Ligitan dan Sipadan di pengadilan <i>International Court of Justice (ICJ), </i>Jenewa, Swiss<i>. </i>Akhirnya, pada medio 2007 proses penamaan kartografi pulau-pulau Indonesia, termasuk pulau-pulau kawasan SaTaS, sudah tuntas dilakukan. Nama-nama pulau itu akan dikirim ke PBB bersama ribuan pulau Indonesia lain.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Berkaitan dengan posisi strategis pulau-pulau Kawasan SaTaS bagi Indonesia, almarhum John Rahasia, pejuang dan cendekiawan penggagas konsep <i>Tagaroa</i>, pernah berkelakar mengatakan, ‘’Bagi Indonesia bahkan pulau-pulau di Sangihe-Talaud-Sitaro lebih penting dibanding pulau Sulawesi dan Jawa,” ungkapnya. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Dia sengaja memancing orang bertanya. Dan, jika ditanya kenapa? Menurutnya, karena sudah kelaziman orang menyebut cakupan wilayah Indonesia secara praktis dalam formula geografis, ‘Dari Sabang sampai Merauke dan dari pulau Rote ke pulau Miangas’. Artinya, kalau empat titik patokan ini berubah, otomatis Indonesia berubah. Sebaliknya kalau pulau-pulau di dalamnya yang hilang, formula wilayah Indonesia akan tetap sama. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Jelas itu kelakar semata, namun menegaskan nilai penting kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro (SaTaS) dalam kesatuan wilayah Indonesia. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>KEPENDUDUKAN</b></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Di luar pulau tidak berpenghuni, 45 pulau lainnya sudah ditempati penduduk Sangihe-Talaud-Sitaro. Yaitu, 26 di Sangihe, 7 di Talaud dan 12 di Sitaro. Di antaranya, enam pulau utama, yaitu dengan luas antara 100 – 1000 Km2.<sup><span style="font-size:78%;">18</span></sup> Keenam pulau itu adalah Karakelang, Salibabu, Kabaruan, Sangihe Besar, Siau dan Taguladang. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dari enam pulau berpenghuni itu, jika disusun peringkatan luasan daratnya, pulau Karakelang mempunyai daratan terluas, yaitu 1000,17 Km2. Tak heran pulau ini berjuluk ‘<i>tanalawo’</i> atau ‘tanah besar. Dulu istilah ini pernah diberikan pada pulau Sangihe Besar. Untung kemudian peneliti dan penulis Alex Ulaen mengkoreksi salah kaprah ini.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Menyusul berada di peringkat dua adalah pulau Sangihe Besar (736,72 Km2). Sebelumnya, pulau ini dikira yang terbesar oleh jurutulis ekspedisi Ferdinand Magellan, Antonio Pigafetta dan misionaris D. Brilman. Bahkan dokumen <i>Mededelingen 1912 </i>memberinya julukan <i>Tana Lawo</i>. Namun sejak dulu pula, pulau Sangihe mendapat julukan ‘<i>tampungan lawo’</i> atau ‘penampung besar’. Julukan terakhir ini awalnya identik dengan nama ‘kedatuan’ awal pulau Sangihe. Kini julukan ini pas dilabelkan pada pulau ini, karena memang punya ‘muatan’ penduduk yang jauh lebih besar dibanding 5 pulau utama SaTaS lainnya. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sekadar memberi gambaran ihwal daya tampung penduduk pulau-pulau itu, Tabel 1.1. memberikan perian data penduduk awal yang diolah dari buku Viersen berjudul ‘’<i>Karesidenan Manado” </i>(1903). Angka-angkanya dibulatkan Viersen. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Khusus untuk Talaud diberi tanda asterik (*) karena memang pada uraian soal jumlah penduduk Talaud tidak diberikan Viersen, namun pada bagian lain dia sempat menyebut angka itu. Kemungkinan angka itu perkiraan Viersen semata.<sup><span style="font-size:78%;">19</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dalam tulisannya itu, Viersen mengurai jumlah penduduk Sangihe-Talaud-Sitaro awal abad ke 20 (1903) adalah 114.000 bumiputra<i> </i>yang terbagi 90.000 jiwa di Sangihe dan 24.000 jiwa Talaud. Sedang golongan kulit putih, masing-masing 50 dan Cina 600 jiwa. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Dengan menghitung seksama angka-angka penduduk pulau-pulau pada Tabel 1.1. dapat diperoleh selisih sekitar 18.000 jiwa. Apakah itu jumlah penduduk di pulau-pulau kecil? Entahlah, tetapi rasanya jumlah itu terlalu banyak.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Angka jumlah penduduk yang lebih sahih nanti terperikan dalam buku misionaris Daniel Brilman <i>Onze Zendingvelden: De Zending op de Sangi en Talaud Einlanden</i><sup><span style="font-size:78%;"><i>20</i></span></sup> (<i>Ladang Pekabaran Injil: Kabar Injil di Kepulauan Sangi dan Talaud</i>). Buku yang ditulis 1938 ini mengutip data jumlah penduduk hasil sensus Hindia Belanda tahun 1930. (Lihat datanya pada Tabel 1.2). </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sebagai bandingan diberikan pertumbuhan penduduk SaTaS pasca kemerdekaan Indonesia. Tabel 1.3. merincikan pertumbuhan penduduk pada beberapa tahun yang dikutip dari buku <i>‘’Nusa Utara dari Lintasan Niaga ke Daerah Perbatasan” </i> karangan Alex Ulaen. Dari Tabel 1.3. itu terpapar pertumbuhan penduduk per dekade sejak tahun 1971 yang menunjukkan <i>trend </i>pertumbuhan yang sangat kecil, bahkan pada kasus pulau Siau terjadi pertumbuhan negatif. Penduduk pulau ini memang banyak yang hengkang ke beberapa daerah daratan pulau Sulawesi dan daerah lain Indonesia. Itu mungkin dapat menerangkan kenapa terjadi fenomena pertumbuhan negatif itu.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>PEMERINTAHAN DULU KALA</b></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dari perspektif dinamika kependudukan,<i> Tampungan Lawo</i> atau Sangihe Besar pantas dicatat. Karena di pulau inilah sebagai akibat dinamika politik, sosial dan budaya penduduknya diduga sejak abad 15 muncul pemerintahan lokal/tradisional . Pertama kali, dibuktikan lewat catatan jurutulis Magellan tahun 1421, Antonio Pigaffeta. Di Sangihe, Pigafetta mencatat ada empat raja. Dua di Siau dan satu di Tagulandang. Tapi sumber sejarah tiga abad sesudahnya, hasil tulisan F. Valentijn yang datang ke Sangihe awal abad ke-18, menyebut awalnya hanya dua saja kerajaan di Sangihe, yaitu Tabukan dan Kalongan. Menurutnya, nanti kira-kira tahun 1670 muncul sembilan kerajaan di Sangihe, yaitu: Kerajaan Kendahe , Kerajaan Taruna, Kerajaan Kolongan, Kerajaan Manganitu, Kerajaan Kauhis, Kerajaan Limau, Kerajaan Tabukan, Kerajaan Sawang (Saban) dan Kerajaan Tamako. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Namun, kemudian kerajaan yang terakhir (Tamako) menjadi bagian Siau. Sementara, Raja Limau ditumpas pasukan kiriman Padtbrugge. Kerajaan ini hancur lebur. Dan, Sawang bergabung dengan Kerajaan Taruna dan Kerajaan Kolongan. Sedangkan Kauhis bergabung dengan Manganitu. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Pada tahun 1898 Kerajaan Kendahe dan Kerajaan Taruna digabung menjadi satu. Di dua wilayah inilah tahun 1919 Raja Soleman Ponto memerintah dengan pusatnya di Kota Tahuna kini. Artinya, pada tahun 1900-an tersisa empat kerajaan saja: Tabukan, Manganitu, Siau dan Kendahe-Taruna. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Terkait dengan hubungan keluar, dua kerajaan awal, Tabukan dan Kendahe di Sangihe Besar, kental mendapat pengaruh sistem kekuasaan di Sulu dan Mindanao (Filipina). Meski kalau ditelaah seksama semua silsilah raja-raja Sangihe-Talaud, Siau, Bawontehu (Manado) dan para keturunan Mokoduluduk lain praktis semua terkait kawin-mawin dengan para penguasa di Mindanao.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sebuah karya sastra lisan (<i>bansil</i>) wilayah Tabukan membeberkan nama-nama kerajaan (yang diberi garis bawah) sekaligus raja-rajanya (ditebalkan hurufnya) yang pernah dikenal masyarakat Sangihe. Kutipan dari karya sastra khas <i>bansil </i>ini ditampilkan dalam ejaan asli van Ophuisen.<i> Kata ’Soe‘ </i>(atau dibaca ‘su’) berarti ‘di’. Kata, ‘’<i>I”</i> sebagai kata penunjuk orang. <i>Taoe atau tau </i> artinya orang atau anak.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">‘’</span><i>Soe Manaro i Laloda, Soe Wenang i Donangbala, </i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i>Soe Tahoelandang i Pako, Madolokang i Tamoengkoe.</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Siaoew i Mohonise, soe Pehe i Winsoelangi</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Tamako i Kakalang,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Manganitu i Tolo, Mahoeboengan i Tompolioe,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel"><i>Soe Tahoena </i>i<i> Woentoeang, Malahasang i Poeloentoembage,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Kalongan i Tatehe taoe maka Tehe woba,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Kendahe i Hioeng, Malinkaheng i Wagania,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Talawide i Poeko, taoe Pepoekoliwoetang,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Sawang i Rodoti, Welengang i Pontolawokang,</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Sahabe i Matali , Sohowang i Pangaloreloe</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Tawoekang i Hama, Rimpoelaeng i Woeateng</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Loemaoege i Taboei, Kaloesada i Ratoengboba</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Koema i Kolowoba</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Koeloehe i Makakoeheting soe Pako Woelele</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><i>Soe Manaloe i Loemampoe Tonggentoelang i Megenoe</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel"><i>Soe Moade I Kansile Manoewo I Ongkedio’’</i><sup><span style="font-size:78%;"><i>21</i></span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"><br /></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sebelum disebut sebagai raja, pemimpin komunal mendapat gelar <i>‘datu’</i>. Alex Ulaen menyebutkan dalam beberapa bukunya, kedatuan merupakan awal dari sistem kepemimpinan komunal (proto pemerintahan). Sistem ini pantas diduga sebagai pengaruh Islam yang tersebar dari Malaka (Melayu). Di Sangihe salah satu titik masuk Islam adalah dari Utara, yaitu Sulu dan Mindanao. Di Filipina, misalnya, Syarif Kabungsuan atau Syarif Muhammad, sang pembawa Islam di Sulu sekaligus dikenal sebagai pembentuk sistem kedatuan pertama di Maguindano Mindanao. Kata ‘datu’ merupakan kata Melayu lama. Islam awal dari wilayah Mindanao terkait dengan jaringan Persia. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kerajaan Tabukan disebut merupakan kerajaan tertua di abad ke-15 di Sangihe dan Talaud.<sup><span style="font-size:78%;">22</span></sup> Meski menurut sebuah kajian yang diterbitkan Kyoto University,<sup><span style="font-size:78%;">23</span></sup> sebelum itu sudah muncul beberapa kedatuan, baik di bawah pimpinan <i>datu </i>dan pemimpin yang bergelar <i>kulano</i>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sebelum kemunculan kedatuan di Tabukan, kajian Alex Ulaen <i>et al</i> menyebut kiprah awal <i>Bowontehu </i>yang terkait dengan tokoh sentral Mocoduludugh (Mokoduludut).<sup><span style="font-size:78%;">24</span></sup> Wilayahnya meliputi pulau-pulau sekitar teluk Manado, pesisir Utara pantai Sulawesi Utara. Molibagu, Bentenan dan wilayah Ratahan. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Dalam catatan beberapa dokumen, rombongan pimpinan Mokoduludugh melakukan perjalanan dari Molibagu dan mengelilingi tempat-tempat di Bolaang Mongondow, Minahasa, lantas ke pulau Lembeh, dan kembali ke daerah sekitar kaki gunung api Lokon. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Kemudian rombongan itu mendiami tempat yang diberi nama Bentenan, dan akhirnya ke pulau Manaro (Manado Tua). Tempat akhir ini sering dikaitkan sebagai lokasi Kerajaan Bowontehu sampai pasca kedatangan pihak Portugis.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Seorang tokoh bernama Lokongbanua II, yang juga keturunan Mokodulut, tercatat pergi dari Bawontehu ke pulau Siau dan mendirikan Kerajaan Siau. H.B. Elias menyebut tahun pendiriannya adalah 1510. Kerajaan ini berpusat di kediaman Lokongbanua II di Kakutungan </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Kerajaan Tabukan yang disebut merupakan bentuk kerajaan awal di kawasan SaTaS sering dikaitkan dengan kiprah dua tokoh, pertama Gumansalangi. Sedang, tokoh legendaris kedua bernama Makaampo Wawengehe.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Gumansalangi disebut sebagai tokoh yang mendirikan kedatuan <i>Tampungan Lawo </i>atau Tabukan antara tahun 1300-1350 yang wilayahnya meliputi Sangihe dan wilayah Filipina Selatan. Tokoh ini dikisahkan asalinya adalah pangeran dari seorang sultan di Mindanao Selatan.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Menurut cerita, pangeran Gumansalangi dihukum ayahnya dan dibuang dalam hutan. Di situ malah dia bertemu Sangiangasa atau Kondawulaeng, seorang puteri kayangan yang lantas jadi istrinya. Keduanya menunaikan hukuman dibuang dengan menaiki kendaraan gaib, seekor ular besar, ke tempat yang akan ditandakan dengan deru guntur dan kilatan petir silih berganti. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Setelah singgah di beberapa tempat di antaranya pulau dan gunung bagian Selatan SaTaS, yang disebut adalah Tagulandang dan Siau, akhirnya keduanya tiba di puncak gunung Sahendarumang. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Ketika berada di atas gunung Sahendaruman (di pulau Sangihe) keduanya mendengar guruh-gemuruh guntur dan singsing menyingsing petir. Itu adalah pertanda yang diberikan ayah Gumansalangi bahwa mereka sudah tiba di tujuan. Keduanya pun lantas turun ke pemukiman penduduk dan di sana Gumansalangi dijuluki sebagai Medellu (guntur) sedang Sangiangasa sebagai Sangiangkila (Puteri Kilat).</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Datu Gumansalangi mempunyai dua anak, Melintangnusa dan Melikunusa. Melikunusa berlayar ke Selatan dan tiba di Mongondow. Dia mengawini Monongsangiang, putri Mongondow. Dan wafat di sana. Sebaliknya, Melintangnusa menggantikan ayahnya sebagai datu kedua (1350-1400). Dia banyak kali berkunjung ke Filipina Selatan dan bahkan meninggal di sana. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Kedatuan ini sepeninggal Gumansalangi dibagi menjadi dua, yaitu: Kedatuan Sahabe di bagian Utara dan Kedatuan Salurang di Selatan.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Tokoh kedua yang juga penting berkaitan dengan Tabukan adalah Makaampo Wawengehe. Penguasa kelahiran Rainis, Talaud, yang pada masa kanak-kanak ditinggal mati ayahnya. Dia kemudian diasuh di rumah dua pamannya di Salurang (Sangihe). Makaampo pada saat dewasa menyatukan kembali kedatuan Salurang dan Sahabe dan memerintah di sini antara 1530-1575. Daerahnya meliputi: Sahabe, Tabukan, Lapango, Kuma, Kuluhe, Manalu dan Salurang. Kerajaan ini masih eksis saat kedatangan bangsa-bangsa Barat (Portugis, Spanyol, Belanda) meski sudah diperintah generasi raja berikutnya.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Jika dicermati besaran wilayah kerajaan-kerajaan yang disebut-sebut tadi, jelas wilayahnya tidak seberapa luasnya. Misalnya, bila dibanding dengan wilayah kerajaan-kerajan kontinental atau kerajaan maritim besar. Namun realitas ini tidak sedikitpun meri-saukan Nico Makahanap<sup><span style="font-size:78%;">25,</span></sup>, peminat sejarah dan budaya SaTaS. Dia menyatakan, ‘’<i>dibanding dengan kerajaan-kerajaan Eropa sezamannya yang kini masih bisa dilihat sisanya, seperti Liechten-stein, Monaco, Andora dan San Marino, wilayah kerajaan-kerajaan di Sangihe-Talaud jelas jauh lebih besar.</i>”</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kerajaan-kerajaan di pulau Sangihe hingga permulaan abad ke-20 tercatat mencakup wila-yah pulau-pulau Talaud. Tidak terkecuali daratan besar <i>tanalawo. </i>pulau Karakelang, pernah terbagi menjadi bagian wilayah dari kerajaan Tabukan, kerajaan Manganitu, kerajaan Kendahe-Taruna, kerajaan Siau dan kerajaan Tagulandang.<sup><span style="font-size:78%;">26</span></sup> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Tercatat pula ada kerajaan yang ‘wilayahnya’ sampai ke bagian-bagian negara Filipina kini. Kendahe misalnya disebut-sebut dalam beberapa situs di Mindanao sebgai <i>candahar</i> mempunyai wilayah ke Mindanao. Kerajaan ini mula-mula merupakan bagian dari kerajaan Mindanau Tubis. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Adapun wilayah Kerajaan Kendahe setelah pisah dari Tubis meliputi Bahu, Talawid, Kendahe, Kolongan, Batuwukala dan pulau-pulau sekitarnya termasuk Kawio, Lipang, Miangas sampai sebagian Mindanau Selatan. Bagian yang di Mindanao merujuk pada data Valentijn adalah <i>Coelamang</i>, <i>Daboe</i> (Davao), <i>Ijong</i>, <i>Maleyo</i>, <i>Catil </i>dan <i>Leheyne</i>,</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Meski demikian, penting digarisbawahi pada waktu lalu konsep kekuasaan tidaklah total dipahami sebagai kekuasaan kewilayahan dalam pemahaman kini.Kala itu, kekuasaan dominan terkait dengan kemampuan membentuk kekuatan bersenjata yang <i>mobile</i> demi merebut kendali atas perdagangan tenaga kerja budak dan monopoli atas produk-produk dagang lain<sup><span style="font-size:78%;">27</span></sup>. Sedang, kekuasaan menurut Evelyn Tan Cullamar dalam tulisannya ‘’<i>Migration Across Sulawesi Sea”</i> dibangun atas relasi orang atau tokoh lain. Aliansi politik dibangun dominan dengan kawin-mawin di antara para elit pemimpin.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dalam sistem pemerintahan Kerajaan Tabukan, menurut dokumen dari Kerajaan Tabukan tahun 1927, jabatan setingkat di bawah raja adalah, <i>jogugu. </i>Sedang, di tingkat kampung ada pemimpin yang disebut <i>kapitalaung </i>(di Sangihe) atau <i>apitalau (</i>di Talaud<i>) dan kapitalau </i>(di Sitaro). </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Menurut J. Makasangkil, kata <i>capita</i> atau kepala dalam bahasa Spanyol dan Porto, di kawasan SaTaS diartikan sebagai jabatan pemimpin orang banyak (<i>lawo</i>) atau pemimpin untuk sebuah ikatan (<i>lawung</i>= ikatan) atau <i>lau (</i>himpunan berbagai campuran). Jabatan ini diberikan pada pemuka yang karena kecakapannya mampu mengikat atau mempersatukan masyarakat sebagai satu kesatuan hukum; memelihara keutuhan serta adat.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Di bawah <i>kapitalaung </i>ada <i>hukum mayor</i> dan <i>hukum</i>. Di kampung juga ada jabatan yang menangani urusan pengadilan, yaitu disebut <i>kapitan bisara, </i>yaitu jaksa. Kewajibannya adalah menyampaikan dakwaan dan membawa terdakwa ke hadapan majelis pengadilan. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Untuk urusan mengadili dipilih seorang hukum mayor yang dilantik menjadi <i>hulu hakim majelis</i>, sedang raja, <i>jogugu</i>, <i>kapitanglaung,hukum mayor</i> serta <i>hukum</i> berlaku sebagai anggota majelis. Kemudian hari dokumen Belanda <i>Mededelingen 1912</i> membeberkan kuasa pengadilan dipegang semata oleh raja dan penguasa kolonial.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Adapula jabatan yang secara khusus mengelola pelabuhan. Bergelar <i>syahbandare</i>. Pejabat ini mengatur lalu lintas masuk keluar kapal. Termasuk, menjemput tamu sekaligus menghadapi segala bahaya yang masuk via pelabuhan. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Jabatan syahbandar ini, <i>pertama,</i> pantas diduga merupakan pengaruh sistem pengelolaan pelabuhan yang diadopsi dari kerajaan-kerajaan Islam-Melayu, semacam Malaka yang memang paling terkenal dan menjadi patron perdagangan Nusantara sebelum kedatangan Portugis. Kata ini bisa saja diserap via Ternate di Tabukan.Pemakaian kata itu<i> </i>merupakan bukti kuat pengaruh jaringan dagang ke Malaka. Sebuah konferensi internasional memperingati 500 tahun hubungan historis Indonesia-Portugis pada tahun 2000 pernah menampilkan <i>paper </i>Uka Tjandrasasmita yang detil membedah ihwal perdagangan di pelabuhan-pelabuhan penting sebelum kedatangan Portugis di Goa (1498) dan Malaka (1511). Di dalam tulisan berjudul ’<i>The Indonesian Harbour Cities and the Coming of the Portuguese</i>” konsep syahbandar Malaka sempat diungkap. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Di samping jabatan penguasa pelabuhan itu, kerajaan juga mempunyai bala tentara yang biasanya dikepalai pangeran dan diberi gelar <i>mayore labo </i>atau mayor besar. Di bawahnya ada <i>mayore</i> (mayor), <i>kapita</i> (kapten), <i>lutunani</i> (letnan), <i>ondore</i> <i>adidang </i>(ajudan),<i> aliparese (</i>pembawa bendera<i>), sariang mayore (</i>sersan mayor<i>), sariang dan kaparale </i>(kopral). </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Khusus dalam istana Tabukan ada jabatan <i>kapitaratu </i>(kepala rumah tangga istana) dan <i>keneke </i>(juru rasa makanan). Juga ada barisan dayang-dayang yang disebut <i>gunde</i> yang dikepalai <i>pangantaseng. </i>Sedang di tingkat kampung, ada jabatan <i>hakim pemisah</i>, <i>mantri polisi</i>, <i>pemungut cukai</i>, <i>mandor jalan</i>, <i>mantri kerajaan</i> dan <i>ibu-bapa</i> bagi rakyat.<sup><span style="font-size:78%;">28</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Sedang di Kerajaan Siau ditemui struktur dan susunan (hirarki) pemerintahan yang secara garis besar serupa dengan yang di Tabukan. Kecuali, sejak tahun 1592, sekembali dari pengungsian di Ternate serta demi menghindari terulangnya serangan pasukan Mindanao sebelumnya, Raja Winsulangi melakukan reformasi pemerintahan. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> H.B. Elias, <i>‘’Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia di Siau” </i> mengurai langkah-langkah reformasi itu:<i><b>Pertama</b></i>, raja Winsulangi membentuk sebuah dewan pemerintahan tertinggi dengan nama <i>Komolang Bubatong Datu </i>(Majelis Kerajaan Siau). Anggotanya terdiri dari keluarga raja dan bangsawan namun juga keterwakilan tokoh-tokoh masyarakat terkemuka. Dewan dipimpin oleh Presiden Raja yang terus berhubungan dengan Raja dalam pemerintahan hari ke hari. Dewan ini berkewenangan bersidang menentukan dan mengangkat raja. Pada kasus Raja tidak ada dalam jangka lama atau berhalangan, dewan dapat mengambil inisiatif mengangkat Presiden Pengganti Raja. Ini hanya berlaku dalam keadaan genting dan jarang terjadi. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dewan itu jelaslah menjadi sarana bagi rakyat untuk ikut serta dalam berbagai urusan pemerintahan. Memang Don Jeronimo Winsulangi berniat agar pemerintahan Siau jangan jadi despot dan penguasa tunggal. Karena dewan ini H.B. Elias menyatakan sifat kerajaan sudah <i>konstitusionale monarchi </i>meski sebenarnya itu akibat kebijakan pemerintahan Portugis.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i><b>Kedua</b></i>, setelah berkonsultasi dengan orang-orang Spanyol raja membentuk pertahanan kerajaan, yaitu angkatan perang darat dan laut. Angkatan darat terdiri dari <i>pasukan kompania</i>, <i>upase </i>dan <i>alabadiri</i>. <i>Kompania </i>adalah tentara biasa, sedangkan <i>upase </i>adalah pengawal raja dan <i>labadiri </i> tentara pengawal istana. Pangkat-pangkatnya sama dengan yang ditemukan di Tabukan, dengan bahasa Porto atau Spanyol.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sedang angkatan lautnya terdiri dari armada perahu perang <i>bininta</i>, <i>konteng </i>dan <i>kora-kora</i>.Angkatan laut dipimpin seorang laksamana, yang saat itu dijabat Laksamana Hengkeng u Naung yang terkenal karena penjelajahannya dari Filipina hingga Leok Buol dengan beberapa daerah tundukan dan wilayah sahabat. Bahkan pernah mengusir pasukan armada Makassar dari Bolaang Mongondow seperti pernah ditulis beberapa penulis Eopa dan H.M. Taulu. Tak heran H.B.Elias dalam bukunya juga menyebut Siau imperium dalam format kecil.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i><b>Ketiga, </b></i>Raja menciptakan panji-panji atau bendera kerajaan. Warnanya secara khusus diturunkan dari dua warna tradisional dalam ritual Siau pada dewa laut (<i>Mawendo</i>) dan darat (Aditinggi), yaitu masing-masing warna merah dan putih. Dua warna ini bagi masyarakat Siau bersifat sakral.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Mungkin, karena itu perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mengusung simbol merah putih Indonesia dengan cepat dan konsisten direspon pejuang-pejuang Indonesia asal Siau yang menjadi partner Soekarno di PNI semacam G.E. Dauhan dan diteruskan para tokoh lain sesudahnya semacam Esly Salekede. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Panji-panji kerajaan Siau ciptaan Winsulangi itu, tampil dalam tiga ukuran dan bentuk. Semuanya disebut sebagai <i>seka-saka. </i>Bendera itu berwarna merah yang dikelilingi <i>bis</i> putih. Bendera ini dipakai terus sampai zaman Belanda. Karena bendera ini, suatu ketika Raja Jacob Ponto dibuang Belanda ke Cirebon. Maklum raja ini tidak mau menurunkan bendera berukuran 80x80 cm di depan istananya. Setelah itu pembuangannya, Belanda sama sekali melarang pengibaran bendera sejensi itu di Siau. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Meski demikian, angkatan perang Siau terus memakainya. Terbukti saat Raja L.N. Kansil yang berangkat ke Tahuna pada tahun 1923 untuk menghadiri perayaan jubelium perak (25 tahun) pemerintahan Ratu Wilhemina. Raja ini memakai bendera itu di perahu kora-koranya dan dengan megah memasuki pelabuhan Tahuna serta disambut secara resmi kala acara itu.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i><b>Keempat</b></i>, urusan pemerintahan diserahkan sepenuhnya kepada Jogugu, yang ketika itu dijabat D’Arras (Darras) yang juga adalah ketua presidenti raja. Perpaduan D’Arras dengan Hengkeng U Naung (atau Hengkengnaung) menghasilkan perluasan wilayah Siau dan penumpasan bajak-bajak laut Mindanao di Laut Sulawesi.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i><b>Kelima, </b></i>supaya mendapat kemajuan yang cepat maka para putera kerajaan (Pangeran Batahi) disekolahkan di universitas di Manila di <i>intramuros</i>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Adapun struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro secara umum dirangkum Steller dalam<i> De Sangi Archipel</i> dengan susunan meliputi jabatan-jabatan:</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Raja</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;"> <span class="mainlevel">Dibantu <i>Bobato </i>(<i>rijksgroten</i>) atau pembesar istana atau Dewan Raja atau </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel"> <span class="mainlevel">Presidenti Raja.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Jogugu</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Presidenti Jogugu (tidak selalu ada)</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Kapten Laut</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Mayore Labo</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Hukum Mayore</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Sadaha Negeri</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Kapitan Bisara</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Sengaji</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Kumelaha</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Sawohi</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Sahbandar</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Marinyo Bisara</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Marinyo Bala</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" class="mainlevel">- Marinyo</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i> </i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sekilas praktik pemerintahannya tidak mengacu pemisahan cabang-cabang kekuasaan atau <i>trias politica</i>, namun mencampurkan cabang-cabang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Meskipun demikian mulai ada pelibatan rakyat dalam kontrol kekuasaan yaitu dalam badan atau dewan raja yang memberi masukan bahkan mengontrol raja. Kontrol itu sangat disadari di Siau sejak Raja Winsulangi. Bahkan di Kerajaan Kendahe pernah pemilihan Raja Makaado (1773-1792) dilakukan lewat pemilihan langsung dan demokratis oleh rakyat.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Negara juga diperlengkapi aparatus militer detil, yaitu angkatan darat dan laut. Dua angkatan ini jelas terkait dengan kebutuhan keamanan dan pertahanan dari berbagai ancaman zaman itu , sekaligus menjadi bukti orientasi maritim kala itu. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>PEMERINTAHAN MODERN</b></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Sekian lama dalam kurun pemerintahan kolonial Belanda, kepulauan Sangihe dan kepulauan Talaud tergabung dalam satu administrasi pemerintahan. Yaitu, sejak perjanjian 1677 sampai pasca bubarnya VOC tahun 1800 kawasan ini berada di bawah kesultanan Ternate. Namun kekuasaan tidak efektif diselenggarakan dan raja-raja lokal-lah yang justru berkuasa. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kemudian pada tahun 1825 kawasan SaTaS masuk dalam wilayah Karesidenan Manado, meski masih dalam lingkungan gubernemen Ternate. Nantilah pada tahun 1859 keresidenan Manado dipisahkan dari administrasi gubernur Maluku. Di dalam struktur baru pemerintahan ini Sangihe-Talaud-Sitaro menjadi satu <i>afdeeling</i> yang dibagi ke dalam dua <i>onderafdeeling,</i> yaitu: Siau-Tagulandang dan Talaud. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Brilman mencatat tahun 1882 seorang kontrolir pernah ditempatkan di Tabukan. Namun tahun 1903 pemerintahan atas pulau-pulau kawasan ini diserahkan kepada seorang asisten residen. Dan nanti tahun 1911 seluruh kawasan ini dibagi dalam dua <i>onderafdeling</i>, yaitu untuk wilayah Sangihe dan Talaud. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Secara khusus di Talaud kontrak ditandatangani raja-raja Sangihe November 1899 dengan Residen Manado E.J. Jelesma yang disahkan Surat Keputusan gubernemen 1 April 1902. Kontrak itu menguatkan wilayah-wilayah tradisional jogugu Talaud, yaitu Lirung, Moronge, Salibabu, Kiama, Beo, Essang, Banada, Amat dan Rainis, termasuk daerah Raja Tabukan. Ini ditandatangani Jellesma dengan Raja Tabukan David Sarapil.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Terkait dengan itu pantas disebutkan terjadi pembangkangan Raja Manee dan dilanjutkan Raja Larenggam. Keduanya merasa dirinya adalah raja , namun dalam kebijakan Belanda dipandang sebagai kejoguguan Tabukan semata. Raja Larenggam mempertahankan harga dirinya sebagai seorang raja independen dengan mengorbankan nyawanya. Sementara itu, pulau-pulau Nanusa, termasuk Miangas, dimasukkan daerah Kerajaan Taruna sebagaimana kontrak dengan Salmon Dumalang, Raja Taruna, 22 November 1899. Adapun daerah Tarun dan Niampak adalah daerah Kerajaan Manganitu yang dikukuhkan kontrak dengan Raja Mocodompis pada 22 November 1899. Lantas kontrak 25 November 1899 dengan Raja Siau Manalong Dulang Kansil mengatur Kabaruan dan Taduwale termasuk daerah Siau. Dan, akhirnya, kontrak dengan Raja Tagulandang, Salmon Bawole, Pulutan dan Daran terhitung daerah Tagulandang.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Tahun 1911 pemerintah Hindia Belanda menerapkan dua <i>onderafdeeling </i>di kawasan SaTaS, yaitu <i>onderafdeling </i>Sangihe dan <i>onderafdeling</i> Talaud. Keputusan itu merupakan permintaan para jogugu dan presiden jogugu di Talaud yang disetujui Residen Manado Ph. J. van Marle. Kemudian dikukuhkan <i>besluit </i>gubernemen nomor 11, tanggal 13 April 1911. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sebagai tindak lanjutnya ditempatkan seorang <i>controleur</i> di Lirung. Sejak itu wilayah Talaud sebagai wilayah raja-raja Sangihe terputus.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Tulisan Elly E. Lasut, ‘<i>Meniti Ombak, Menantang Bayu</i>’ (2007) menyebut empat tahun sesudahnya, yaitu pada 18 Februari 1915, Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia mengeluarkan keputusan nomor 18 yang intinya menetapkan kepulauan Talaud menjadi Kerajaan Talaud. Dengan kuasa pemerintahan, pada awalnya, berada di bawah <i>raad van jogugus </i>(Dewan Jogugu-Jogugu) serta dipandu <i>controleur </i>Belanda.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Pemerintahan Dewan Jogugu ini berakhir tahun 1921 dengan diangkatnya J.S. Tamawiwij (sebelumnya Jogugu Karakelang Utara di Beo) menjadi Raja Talaud tanggal 31 Agustus 1921. Menurut Max Maanema jabatan Raja Talaud itu masih terus diakui beberapa waktu setelah kemerdekaan. Tahun 1954, misalnya, gubernur Sulawesi Lanto Daeng Pasewang saat datang ke Lirung masih diterima oleh Raja Binilang. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Hikayat raja-raja Sangihe yang sebagian sudah disebut terlalu panjang untuk diurai detil keseluruhannya dalam tulisan ini. Para peminat bisa mengacu pada hasil-hasil penelitian yang pernah dikumpulkan peneliti dari Kyoto University, Mindanao University dan Universitas Sam Ratulangi.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Pemerintahan selama masa pendudukan Jepang tidak juga diurai di sini, karena masanya yang singkat. Yang sekadar pantas diurai di sini adalah nama jabatan raja diganti jabatan yang disebut <i>syunco, </i>sedang jogugu diganti <i>gunco</i>. Dalam masa ini beberapa raja dipancung Jepang karena melawan penguasa Timur Raya itu. Di antaranya, Christian Ponto yang menolak membayar pajak ke Jepang. Raja ini merasa aneh Jepang sebagai pendatang malah memintanya membayar pajak.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Pasca kemerdekaan Indonesia yaitu pada masa pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) SaTaS masuk ke wilayah Negara Indonesia Timur. Kala itu diperintah kepala distrik, yaitu W. Sarapil, namun yang kemudian digantikan oleh B.J. Medellu sebagai kepala distrik 1949-1950, berhubung Sarapil terpilih sebagai senator pemerintah Negara Indonesia Timur. Yang harus ditegaskan bahwa meski sudah ada kepala distrik, namun kekuasaan raja-raja terus difungsikan pada posisinya. Kepala distrik itu sekadar berfungsi layaknya <i>controleur</i> semata. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Sejak dekade 1950-an kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro ini secara administratif terhimpun dalam satu daerah otonom. Kemudian sebagaimana diatur Undang-Undang No. 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Provinsi Sulawesi menjadi kabupaten hingga 2002. Pasca bergulirnya reformasi, sejak 2002 kawasan SaTaS ini resmi dibagi dua, dan pada tahun 2007 malah menjadi tiga daerah administratif otonom setara dalam lingkungan Provinsi Sulawesi Utara.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>TELAAH NAMA</b></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Nama Sangihe diucapkan sebagai ‘<i>Sangihe’</i> pada naskah lama Viersen. Namun disebut ‘<i>Sangi’,</i> pada tulisan Graafland dan ulasan sejarahwan F.S. Watuseke. Kemudian disebut ‘<i>Sangihe</i>’ pasca Indonesia merdeka dan ‘<i>Sangil</i>’ di Filipina.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Nama-nama itu sebenarnya sama saja. Sekadar berbeda karena penyesuaian pengucapannya dari waktu ke waktu. Dapat diajukan di sini kata awalnya adalah <i>‘sangi’ </i>yang <i> </i>diucapkan <i>‘sangih’. </i>Namun<i> </i>karena ciri kata-kata bahasa Sangihe digolongkan sebagai <i>vokalis, </i>yaitu kata-kata akan diberi bunyi hidup di belakangnya. Kecuali pada bunyi ‘n’ yang malah dibunyikan menjadi ‘ng’.Maka, kata <i>‘sangih’ </i>berubah jadi <i>‘sangihe’. </i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kebetulan banyak kata berakhiran <i>‘he’ </i>cenderung dibaca bunyi ‘r’ (contohnya Kendahe, dibaca <i>‘ken-dar’</i> dan Batulewehe dibaca <i>ba-tu-le-wer, </i>juga <i> </i>dalam dokumen lama terdapat nama tempat Kuluhe, yaitu <i>ku-lur</i>). Maka Sangihe pun dibaca <i>‘Sa-ngir’. </i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Soalnya, bagaimana harus menerangkan mengapa kelompok Sangihe di Filipina yang 5 abad meninggalkan pulau Sangihe dan menyebut diri mereka sebagai orang ‘Sangil’?.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sekali lagi pendekatan fonologi dipakai untuk memecahkan pertanyaan ini. Menurut Kenneth Marryott, ahli bahasa Sangihe di <i>Summer Institute </i>yang mendirikan pusat bahasa Sangihe di General Santos Filipina, salah satu keunikan bunyi bahasa Sangihe adalah dimiliki dua bunyi <i>‘l</i>”. Yang pertama, adalah bunyi ’l’ biasa seperti pada kata Sangihe <i>pulu (</i>gila<i>). </i>Dalam bahasa Indonesia misalnya pada kata <i>‘sepuluh’. </i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Yang kedua adalah bunyi <i> </i>retrofleks yang diucapkan mirip bunyi ‘r’ dan ‘l’ yang diucapkan bersama-sama seperti pada kata <i>‘pulu’ </i> yang lain yang dibaca ‘pu u’ yang berarti ‘gagang pisau’ atau ‘getah’. Ini sudah cukup untuk menerangkan bagaimana bunyi ‘<i>sa-ngir</i>’ berubah menjadi ‘<i>sa-ngil</i>’ di Filipina<i>. </i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Kata asal ‘<i>Sangi’ </i>atau <i>‘’Sangih” </i> tadi berarti ‘tangis’. Beberapa penulis Eropa menguraikan nama itu dihubungkan dengan musibah ‘banjir besar’ di kawasan ini. Pantas diduga yang dimaksud adalah bencana tsunami karena pergerakan tektonik dan tenggelamlah sebagian daratan penghubung pulau Sulawesi dan Mindanao yang pernah diurai beberapa geolog, di antaranya, yang pernah dikutip dalam tulisan Nico Makahanap<sup><span style="font-size:78%;">29</span></sup>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Cerita menyebutkan sesudah proses tenggelamnya daratan SaTaS yang tinggal hanyalah puncak gunung-gunungnya yang kini dikenal sebagai pulau-pulau Sangihe dan Talaud.<sup><span style="font-size:78%;">30</span></sup> Terkait dengan tenggelamnya sebagian daratan, Riedel dan Steller mengumpulkan banyak cerita rakyat di Minahasa dan Sangihe-Talaud-Sitaro yang berisi kisah soal semacam itu. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Dugaan tenggelamnya pulau atau daratan disamping merupakan analisis tektonik dan geologis semacam yang dapat dilihat pada uraian beberapa tulisan John Katili, namun rujukan lain yang bisa diacu, yaitu kisah lisan kejadian-kejadian serupa yang pernah terjadi di wilayah SaTaS, yaitu kejadian tenggelamnya Maselihe (ibukota kerajaan Kendar) di Timur pulau Sangihe. Kejadian dasyat itu terjadi pada masa pemerintahan Raja Sjam Sjah Alam (Syamsu Alam atau juga Samansialang) tahun 1711. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sedang, cerita lain datang dari kalangan puak Bantik yang kini tersebar di berbagai tempat di daratan Sulawesi Utara. Yaitu, kisah tenggelamnya pulau Bantik <i>Panamburan</i> yang pantas diduga berada tepat di daerah terjadinya subduksi ujung piringan Sangihe dan Halmahera yang dekat Talaud kini. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Karena pulau yang tenggelam itu, puak Bantik tersebar di berbagai penjuru jazirah Sulawesi. Yang paling dekat berada di beberapa desa Bantik di Beo (Talaud). Desa-desa Bantik sejenis dapat pula ditemui di wilayah Bolaang Mongondow, Minahasa Utara dan terutama paling banyak di dalam Kota Manado.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Alkisah pasca kejadian itu, diceritakan penduduk yang selamat dari musibah alam itu terlibat dalam perkabungan dengan raungan dan lengkingan tangis (<i>sangih </i>dan <i>sumangih). A</i>khirnya peristiwa itu menghasilkan nama khas kelompok orang hingga kini.<sup><span style="font-size:78%;">31</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <sup><span style="font-size:78%;"> </span></sup>Meski diyakini nama Sangihe sudah lama dipakai, namun kata asal nama ‘Sangihe’ secara tertulis pertama ditemukan dalam laporan ekspedisi pelayaran laut Magelhaan dalam ruas perjalanan Matan-Tidore 23 April dan 8 November 1521. Yaitu kata ‘<i>Sanguin’</i> sebagai nama pulau. Sebagaimana catatan Antonio Pigaffeta<sup><span style="font-size:78%;">32</span></sup>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Namun sebelum petualangan samudera bangsa-bangsa Barat itu, pelaut-pelaut handal Cina sudah mencatatkan nama-nama pulau kawasan ini dalam peta panduan perjalanan laut. Contohnya, dilakukan jurutulis Laksamana Cheng Ho (Zheng He), bernama Ma Huan (1421) dalam karyanya <i>Ying-yai Sheng Lan</i> atau ‘’Survei Menyeluruh Pesisir Samudera” (1433). </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel">Gavin Menzies (2005) menuduh peta-peta acuan para pelayar besar Barat semacam Diaz, Columbus, Magellan, dan Tasman mungkin adalah jiplakan Portugis atas peta Cina. Dia menduga penjiplakan itu merupakan hasil kerja kelompok ahli yang dikumpulkan Henry Sang Navigator. Tokoh ini dalam sejarah Eropa terkenal karena mengumpulkan berbagai ahli (perbintangan, perkapalan, ilmu bumi dan ahli peta) untuk mendukung rencana ambisiusnya mencari wilayah-wilayah baru yang menjanjikan kekayaan melimpah.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Menzies berani menggugat pihak Barat bukanlah pihak yang menemukan berbagai dunia baru, semacam Benua Amerika dan Australia termasuk Antartika, karena wilayah-wilayah itu sudah ditemukan jauh kala para pelaut ulung Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang dan Ming, lebih khusus lagi pada dinasti Ming zaman kaisar Zhu Di.<sup><span style="font-size:78%;">33</span></sup> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"><b>TALAUD DAN PERDEBATAN MAJAPAHIT</b></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Sedang kata ‘Talaud’ disebut-sebut diturunkan dari kata ‘<i>malaude</i>’ yang berarti ‘tak jauh dari laut’. Kata ini muncul secara `tertulis pertama dalam catatan ekspedisi Loyasa 1537, yaitu kata ‘<i>Talao</i>’. Sebelumnya pada catatan Pigaffeta yang muncul adalah nama-nama pulau di Talaud. Begitupun pada catatan Ma Huan. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Dulu nama lain Talaud yang disebut-sebut adalah <i>talloda atau , taroda, atau talauda</i><sup><span style="font-size:78%;"><i>34. </i></span></sup> Karena kata terakhir ini maka dihubungkan Muhammad Yamin dengan kata <i>uda </i>dalam naskah sastra <i>kakawin</i> Mpu Prapanca <i>Nagara Kertagama </i>yang diterjemahkan awalnya oleh Pigeaud. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Namun dalam beberapa kajian terbaru oleh Sollewijn Gelpke dan Christian Pelras penafsiran <i>uda makadraya </i>semacam itu harus buyar. Buku kajian pemerintahan Majapahit penulis Indonesia paling mutakhir pun tidak memasukkan Talaud dalam cakupan wilayah dudukan Majapahit.<sup><span style="font-size:78%;">35</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Meski demikian, kehadiran gong atau bonang berpencu serupa yang dipakai sebagai alat musik di Sangihe dan Talaud pantas dikaji dan diberi penjelasan. Karena gong-gong berpencu semacam itu dilaporkan di Kalimantan resmi sebagai bukti fisik kekuasaan Majapahit. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Di Sangihe gong semacam itu dalam catatan Brilman pada abad ke-19 sampai 1930-an masih dimainkan. Biasanya digabungkan membentuk sebuah orkestrasi gong kecil dan besar yang dipadu dengan tetabuhan tambur menjadi orkestrasi yang lazim disebut sebagai <i>kulintang</i>. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Berikut gambarang Brilman tentang kulintang gong itu dalam bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh GMIST <i>Kabar Baik Di Bibir Pasifik: </i>‘’<i>Dalam lapangan terbuka yang besar dikelilingi oleh pagar penonton yang banyak, beberapa peserta mengambil tempat duduk di tanah dengan beberapa alat musik pukul. Sebuah gong besar dengan garis tengah kira-kira 70 centimeter digantung di sekitar tempat itu dan tiga buah gong yang lebih kecil dengan garis tengah sekitar dua puluh lima centimeter, semuanya berbeda nadanya, dengan lubangnya menghadap ke bawah, ditempatkan di atas tali-tali yang direntangkan pada suatu bingkai, beberapa centimeter di atas tanah.</i><i><b> </b></i> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <i> Selanjutnya ada beberapa genderang, baik yang berbentuk tabung maupun kerucut, keduanya dibentangkan kulit kambing yang kering. Pemain ketiga gong yang memimpin keseluruhannya dan sesuai dengan irama yang diberikannya, maka gong besar, kerapkali berselang dua detik memperdengarkan nada berat oleh pukulan kayu yang terbungkus. Pukulan genderang yang cepat, namun disesuaikan dengan irama gong kecil, sehingga keseluruhannya mengikuti irama tertentu</i>.”</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Orkestrasi ini ditemui di wilayah kawasan SaTaS, Bolaang Mongondow, Minahasa Tenggara (Bentenan) maupun Mindanao (Filipina). <i>Kulintang</i> ini mesti dibedakan dengan alat musik dengan nama sama namun yang terbuat dari kayu. Konon kolintang kayu ini sekadar pengganti alat musik orgel gereja yang rusak di Tomohon. Meski, dalam catatan hal itu dihubungkan sebagai hasil modifikasi seniman, Nelwan Katuuk tahun 1940-an.<sup><span style="font-size:78%;">36 </span></sup> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Gong itu merupakan barang pergaulan dan persembahan para elit. Khusus gong berpencu dipercaya terkait dengan perjalanan elit di armada Majapahit.<sup><span style="font-size:78%;">37 </span></sup> Sedang gong tidak berpencu berasal dari Cina.</p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Salah satu bukti tertulis tentang pemberian gong<sup><span style="font-size:78%;">38</span></sup> di antara para raja zaman dahulu tercantum jelas pada perjanjian 8 November 1677 antara raja-raja Ternate, Siau, Bolaang, dan Kaidipang pasca pengeroyokan kerajaan Siau yang dipandu Kompeni Belanda.<sup><span style="font-size:78%;">39</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <sup><span style="font-size:78%;"> </span></sup>Apakah alat musik gong itu di SaTaS masuk lewat Filipina yang mendapatkannya dari pulau sekitar semacam Sumatera dan Borneo atau dari negara-negara sahabat Majapahit di daratan Asia? Ataukah malah masuk ke SaTaS dan Filipina via Ternate yang merupakan wilayah dudukan Majapahit? Semua perlu dikuak . </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Buku ini cenderung menduga-nya masuk dari Ternate. Karena alat musik itu merupakan bagian dari perlengkapan aba-aba komando para pendayung kapal kora-kora dulu.<sup><span style="font-size:78%;">40 </span></sup> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Terlepas dari kaitannya dengan Majapahit, di kawasan SaTaS kehadiran orang Jawa (Islam) sekurangnya bisa ditunjuk ke tahun 1679 saat pasukan Jawa bergabung dengan pasukan Kerajaan Limau melawan aksi pemusnahan tanaman rempah di pulau Sangihe (cengkih dan pala). Mereka datang via Ternate.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Ada juga nama julukan lain bagi Talaud, yaitu <i>Porodisa. </i>Kata ini sering dikaitkan dengan kata <i>paraiso</i> (Spanyol) yang berarti sorga. Namun pada catatan lain nama itu merupakan bahasa <i>sasahara, </i>yaitu bahasa perlambangan khusus dipakai di laut serta untuk ekspresi sastra orang Sangihe-Talaud-Sitaro. </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Raymond Tingginehe punya uraian lain soal nama julukan itu . Menurutnya, <i>porodisa </i>bukan kata serapan asing tapi kata asli Talaud semata, <i>poro</i> artinya ‘’pancung atau potong” dan <i>dissa</i> artinya ‘’hantam dan hancurkan”. Menurutnya, kata itu adalah kata komando saat perlawanan memerangi bajak laut Mindanao. Sedang pada bagian lain Tingginehe juga menyebut kata itu pernah menjadi nama seorang raja di kepulauan Talaud.<sup><span style="font-size:78%;">41</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Nilai penting Talaud di kawasan SaTaS adalah pengungkapan hasil kajian Peter Bellwood tentang kebudayaan Talaud zaman prasejarah 6000 tahun lalu.Manusia pertama kawasan SaTaS dalam kajian Bellwod terbukti berada di Talaud 6000 tahun lalu. Itu berdasarkan penggalian bukti-bukti fisik gerabah dan berbagai perhiasan serta alat batu lain di Liang Tuwo Manee, pulau Karakelang. Namun kajian arkeologi lain yang dilakukan oleh Daud Tanudirjo yang lebih Mutakhir (1995) menancapkan patok waktu yang jauh lebih ke belakang dari kajian Bellwood, yaitu 30.000 -21.000 tahun lalu.<sup><span style="font-size:78%;">42</span></sup></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Kelompok manusia awal itu dapat diduga merupakan gelombang awal manusia yang datang dari daratan Mindanao, Filipina. Karena demikianlah rute perjalanan manusia awal Asia dari Cina bagian Selatan ke Indonesia. Lantas menyebar ke Melanesia, Polinesia dan Mikronesia yang pernah diurai banyak ahli, di antaranya Peter Bellwood dan John Suggs.</span></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> <span class="mainlevel"> Talaud juga menjadi titik penting perkembangan kebudayaan logam Nusantara 1000 - 100 tahun sebelum Masehi. Tepatnya berlokasi di Liang Buidane, pulau Salibabu. Di tempat ini selain ditemukan bentuk-bentuk tembikar khas budaya Buidane, yang menjadi penanda kebudayaan Talaud selama satu millenium sebelum masehi. Di tempat ini dibuat cetakan-cetakan logam di antaranya pembuatan kapak. Jadi tidak benar simpulan catatan Sydney Hickson bahwa kebudayaan SaTaS seolah melompat ke kebudayaan kayu. </span> </p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Selain uraian asal nama tadi, secara etimologis masih ada lagi dua kata asal nama Sangihe-Talaud itu. Yaitu, kata Sangihe disebut-sebut diturunkan dari penggalan kata <i>sang</i> dan <i>ihe</i> yang artinya sama dengan ‘<i>Sang Air</i>’. Sedang kata ‘Talaud’ dari <i>Tau</i> dan <i>Laude</i> mempunyai arti pelaut atau navigator.<sup><span style="font-size:78%;">43</span></sup> Meski demikian tidak ada rincian sejauh ini apakah ada hubungan antara Talaud dengan suku-suku laut atau <i>sea gypsies</i> di Mindanao semacam <i>Orang Laut</i>, <i>Orang Sama, Orang Rawa, Bajaus, Lutaos </i>dan<i> Samal.</i></p> <p style="text-indent: 1cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 0.49cm;" align="justify"> Namun demikian, ada peneliti yang menghubungkan kata Sangihe dengan kata Belanda <i>zanger</i><sup><span style="font-size:78%;"><i> </i></span></sup>(penyanyi). Memang benar orang-orang Sangihe dikenal suka nyanyi dan kaya akan berbagai ragam musik vokal, tapi penghubungan arti nama dengan kata Belanda itu jelas mengada-ada, karena entitas Sangihe-Talaud-Sitaro sudah lama ada jauh sebelum kedatangan Belanda. Bahkan kehadirannya dipatok sejak zaman pra-sejarah 30.000-21.000 tahun lalu. </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><b> </b>Adapun soal nama Siau akan disinggung pada posting <a href="http://www.thesatasconnection.org/2008/07/nusa-utara-kancah-bangsa-bangsa.html">Nusa Utara Kancah Bangsa-bangsa</a>. </p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm;"><br /></p> <p style="margin-bottom: 0cm; font-weight: bold;" class="mainlevel">Catatan Kaki:</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;"><i>1</i></span></sup><i>Kawasan diartikan sebagai batasan ruang yang terdiri dari beberapa daerah yang secara administratif otonom namun dalam rangka strategi pembangunan dirangkum dalam satu platform karena kesamaan ciri kewilayahan serta kepentingan pembangunan .</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;"><i>2</i></span></sup><i> Kata nama tempat (toponim) Tahuna dipakai untuk merujuk pada nama Kota Bandar yang adalah ibukota Kabupaten Sangihe, sedang kata Taruna untuk nama kerajaan</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">3</span></sup> Jacobs, Hubert, 1992<i>, The Insular Kingdom of Siau Under Portuguese and Spanish Impact, 16 and 17 Centuries, </i>Regions and Regional Development in The Malay-Indonesia World, 6 European Colloquim On Indonesian and Malay Studies (ECIMS), Otto Harrassowitz, Wiesbaden.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>4</i></span></sup><i>De Zelfbestuurende Landschappen Tahoelandang, Siaoe, Taboekan (Ten Rechte Tawoekan), Kandhar-Taroena (Ten Rechte Kendahe-Tahoena) En Manganitoe”, Mededelingen, 1912.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>5</i></span></sup><i> </i>Kajian atas data berita media dan laporan kurun 1980-an.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">6 </span></sup>Kajian laporan media dan berbagai laporan dekade 1990-an.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>7</i></span></sup>Tiga unit administrasi setingkat kabupaten ini di buku ini disingkat jadi SaTaS. Kata yang dibaca dari depan dan belakang tetap demikian bunyinya. Dua huruf ‘a’ sekadar pembentuk bunyi semata, dan yang utama adalah STS (Sangihe, Talaud dan Sitaro atau sebaliknya). Ketiganya harus diberi huruf kapital, artinya sama-sama setara dipentingkan.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>8</i></span></sup><i> </i>Teguh, Herman<i>, et.al, </i>Juli 2006<i>, ’Pulau Karakelang Surga Kecil Keanekaragaman Hayati Talaud”, </i>Bird Life Indonesia.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>9 </i></span></sup>Dibahas nanti pada bab enam</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">10</span></sup> Kata ‘<i>Napo’ </i> adalah dangkalan pada area laut tertentu yang terjadi akibat munculnya hamparan karang di dasar laut. Bandingkan, Kamus <i>Sangirees-Nederlands Woordenboek </i>K.G.F. Steller dan W.E. Aebersold: <i>‘’Napo: Ondiepte (de rotsbodem of ‘n rif)”.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">11</span></sup> Bellwood, Peter, 1976<i>, Archeological Research in Minahasa and The Talaud Islands, Northeastern Indonesia</i>, Asian Perspective, XIX (2) </p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">12.</span></sup>Hengkin, Louis, Richard Crawford Pugh, Oscar Schachter dan Hans Smit, 1993, <i>International Law Cases and Materials</i>, West Publishing Co., Minnesota.</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;"><i>13</i></span></sup><i> </i>Indroyono Soesilo dan Budiman,<i> </i>2002<i>, Iptek Untuk Laut Indonesia,</i> LISPI; Jakarta dan laporan Earth Watch CSIRO.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>14</i></span></sup><i> Berita Berkala Vulkanologi Edisi Khusus No. 187 Tahun 1992, </i>Direktorat Vulkanologi Departemen Pertambangan dan Energi<i>. </i> </p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;"><i>15</i></span></sup><i> </i>Teguh,<i> op. cit.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">17</span></sup> Ulaen,Alex,2003, Nusa Utara: <i>Dari Lintasan Niaga Ke Daerah Perbatasan,</i> Sinar Harapan; Akamichi, Tomoya dan Eddy Mantjoro, 1996, <i>Sea Tenure and Its Transformation in the Sangihe Island of North Sulawesi, Indonesia: The Seke Purse-Seine Fishery</i>, <i>SENRI Ethnological Studies 42</i>. Thufail, Fadjar Ibnu, 1997, <i>Negotiating Tradition The Cultural Politics of Seke Fishing In Sangihe, Indonesia, </i>Thesis, University Of New Jersey.</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">16</span></sup> Kaligis, O.C., 2003,<i> Sengketa Sipadan Ligitan Mengapa Kita Kalah</i>, O.C. Kaligis & Associates, Jakarta.</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">18</span></sup> Kriteria luasan <><span style="font-size:78%;">2</span>dalam pemahaman Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan digolongkan pulau kecil. Artinya, semua pulau di wilayah SaTal masuk kategori pulau kecil.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">19</span></sup> Data jumlah penduduk yang lebih awal untuk pulau-pulau tertentu bisa ditemukan, misalnya uraiannya untuk pulau Siau dalam dokumen Jesuit sebagaimana diurai Hubert Jacobs di abad 17 antara 3 hingga 7 ribu, masing pertumbuhannya tahun 1588, 2.400; tahun 1612, 3000; tahun 1631, 7000, tahun 1645, 3.000 dan tahun 1676 5.500 jiwa.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">20</span></sup> Diterjemahkan tim GMIST menjadi <i>Kabar Baik Di Bibir Pasifik</i>, GMIST-Sinar Harapan, Jakarta, 2000</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">21</span></sup>Paparang, Sem Dalope, 1927<i>, Peri hal Kampongwezen dan Kampongbestuur dehoeloe dan sekarang dalam keradjaan Tabukan.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">22</span></sup> Paparang, <i>ibid.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">23</span></sup> Hayase, Shinzo, Dominggo Non dan Alex Ulaen, <i>1998, Silsilas/Tarsilas (Genealogies) and Historical Narratives In Sarangani Bay and Davao Gulf Regions, South Mindanao, Philippines, And Sangihe Talaud Islands, North Sulawesi, Indonesia, </i>Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University, Kyoto.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">24 </span></sup>Mokoduludugh juga disebut-sebut sebagai para pemimpin pemukim awal wilayah Bolaang Mongondow, lihat Dunnebier, W, 1984<i>, Raja-Raja Bolaang Mongondow, </i>Intan Press, Surabaya. </p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;"><i>25</i></span></sup>Makahanap, Nico R, 1985<i>, Mengenal Kepulauan Sangihe-Talaud</i>, Yayasan Pelestarian Budaya Sangihe-Talaud, Jakarta. </p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">26</span></sup> Lihat peta dalam ‘’<i>Mededelingen Van Het Bureau Voor De Bestuurzaken Der Buitenbezittingen van het Departement van Binnenlandsch-Bestuur”, 1912.</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">27 </span></sup> Andaya, Barbara Watson, 1993, <i>Cash cropping and Upstream-Downstream Tensions: The Case of Jambi in The Seventeenth and Eighteenth Centuries</i>. Dalam ‘’<i>The Southeast Asia in the Early Modern Era: Trade, Power and Belief</i>, Anthony Reid (ed). Cornell University Press, Ithaca and London.</p> <p style="margin-bottom: 0cm;" class="mainlevel"><sup><span style="font-size:78%;">28</span></sup>. Paparang, <i>op. cit</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">29</span></sup> Makahanap, <i>op. cit</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">30</span></sup>.Makahanap <i>ibid, </i>yang mengutip <i>Encyclopaedia van Nederlandsch oost-Indie</i>, Nyhoff/Brull, Leiden Den Haag 1917.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">31 </span></sup>Graafland, N, 1991, <i>Minahasa Negeri, Rakyat dan Budayanya</i>, Grafiti untuk Yayasan Parahita, Jakarta, 1991. Ini adalah terjemahan kedua yang pernah dipublikasikan atas karya asli berbahasa Belanda ‘’<i>De Minahasa: Haar verleden en haar tegenwoordige toestand’’, M.Wyt& Zonen, </i>Roterdam, 1869</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">32</span></sup> Ulaen, <i>op cit</i></p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">33</span></sup> Menzies, Galvin, 2007, <i>’1421 Saat China Menemukan Dunia’</i>, Alvabet, Jakarta.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">34</span></sup>Snelddon, J.N., 1984, ‘ <i>Proto- Sangiric and The Sangiric Languages</i>’’, <i>The Australian National University. </i> </p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">35.</span></sup> Kawuryan, Megandaru W., 2006, <i>Tata Pemerintahan Negara Kertagama Kraton Majapahit,</i> Panji Pustaka, Jakarta. </p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">36</span></sup> Wenas, Jessy, 2007, <i>Sejarah & Kebudayaan Minahasa</i>, Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, Jakarta.</p> <p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 0.39cm;" class="mainlevel" align="justify"><sup><span style="font-size:78%;">37.</span></sup> Bramantyo, Triyono ‘<i>’Diseminasi Musik Barat di Timur</i>’’, Yayasan Untuk Indonesia, Yogyakarta, 2004 yang mengutip Hood Mantle ‘’Indonesia (Bagian I No. 1-4)’