Minggu, 2008 Juli 13

Nusa Utara Kancah Bangsa-bangsa

KAWASAN Sangihe-Talaud-Sitaro di masa kolonial Belanda lazim disebut sebagai ‘noorder-einlanden’. Harafiahnya berarti, pulau-pulau lebih Utara namun lebih populer diterjemahkan sebagai ‘Nusa Utara’.

Kutipan dari buku Viersen dalam bahasa Melayu berjudul ‘’Karesidenan Manado” (1903) dipilih berikut ini untuk memberi kesaksian soal itu: ‘’Adapon maka poelau-poelau Sangir dan Talaoet doedoek pada pihak Timoer laoet Minahasa. Masa keperintahan Kompeni Hindia Nederland maka poelau-poelau itoe diseboet: Poelau-poelau yang doedoeknja lebih ke Utara.”

Istilah noorder-einlanden atau Nusa Utara itu kini (2007) jelas sudah terhitung berusia 340 tahun. Awal kemunculannya terkait dengan perjalanan Gubernur Maluku Robertus Padtbrugge 16 Agustus hingga 25 Desember 1677, sebagaimana laporan, ‘Het Journaal van Padtbrugge’s Reis naar Noord-Celebes en de Noorder-eilanden’ (Jurnal Perjalanan Padtbrugge Ke Sulawesi Utara dan Pulau-pulau Lebih Utara). Perjalanan pejabat kompeni ini jelas bukan perjalanan dinas biasa. Karena perjalanan paduka ini membawa armada perang lengkap. Artinya, terselip dalamnya persiapan perang atau sekurangnya niat dan agenda kekerasan tertentu.

Perjalanan Padtbrugge ke Nusa Utara secara khusus mengandung maksud membuat para penguasa Nusa Utara mensinkronkan diri dengan: (1). Kepentingan geopolitik Belanda, dan (2). Kepentingan ekonomi monopoli dagang rempah-rempah kompeni Belanda.

Dari perspektif sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia, dan seterusnya ke masa Indonesia merdeka, perjalanan itu sangat penting, karena adalah awal konsolidasi wilayah yang nanti dimanfaatkan sebagai ruang penunjang kepentingan ekonomi rempah VOC di Maluku. Sesudah itu, sejarah mengisahkan wilayah itu dialihkan jadi wilayah politik dan administrasi negara Hindia Belanda. Bahkan, kemudian, jadi patok paling Utara bagi wilayah kedaulatan negara Indonesia hingga kini.


HUBUNGAN BANGSA-BANGSA EROPA

Dari perspektif kepentingan ekonomi kompeni Belanda abad ke-17, kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro (SaTaS) atau Nusa Utara jelaslah penting. Bahkanpantas disebut strategis dalam konteks kepentingan geopolitik-ekonomi Belanda kala itu.

Karena, Nusa Utara berada tepat di ujung wilayah dudukan VOC. Dan posisi itu menjadi lebih penting, karena area Utara ini berbatasan ke wilayah dudukan bangsa Spanyol. Bangsa Iberia ini di abad ke-16 hingga 17 merupakan seteru berat Belanda.

Jauh sebelum Belanda berlayar ke Nusantara bangsa Spanyol tercatat sudah mapan bercokol di Filipina, yaitu sejak rintisan oleh Ferdinand Magellan, Lopez de Villalobos dan Lopez de Legazpi pada awal hingga medio abad ke-16. Atau terhitung satu abad sebelum Padtbrugge diangkat menjabat Gubernur VOC di Maluku.

Selang kurun abad ke-17, Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda adalah para penguasa Eropa yang terlibat persaingan memperebutkan daerah-daerah Nusantara. Terutama, ingin menguasai wilayah-wilayah strategis perdagangan seperti: Wilayah Laut Sulu-Sulawesi, Wilayah Laut Maluku dan Wilayah Laut Banda. Tentu ada kota-kota pelabuhan dagang lain yang juga penting dan sebelum kedatangan Portugis dikuasai oleh penguasa lokal seperti Malaka, Banten, Sunda Kalapa, Tuban, Cirebon, namun tak berlebihan di tiga hamparan laut di atas itu terdapat pulau-pulau impian dengan aneka potensi komoditas rempah-rempah yang merupakan produk paling penting bagi para penjelajah dan penjajah Eropa itu.

Takdiran zaman itu siapa yang berdagang rempah-rempah otomatis akan meretas kekayaan dan kejayaan. Apalagi kalau mampu memonopoli komoditas langka yang sangat dibutuhkan Eropa itu.

Kebudayaan Cina, Persia dan Arab jauh hari sebelumnya sudah mengajarkan orang Eropa akan nilai penting rempah-rempah sebagai obat manjur dan resep bagi makanan dan kosmetik. Tak heran, rempah-rempah dapat mencapai nilai setara dengan harga emas kala itu.

Nah, para penjelajah asal daratan Eropa itu berada di rel motif ingin merengkuh kekayaan material itu. Mereka terdorong menguasai wilayah-wilayah laut, pulau dan kota penting dengan sekuat tenaga. Mereka mengarahkan segenap akal bulus dan naluri muslihat untuk tujuan ini.

Pantas diceritakan, jauh hari sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara sudah tercipta jalur niaga laut insuler Asia. Bahkan sebelum itu, pergerakan barang dan budak belian sudah terjadi intens. Dalam pemahaman bangsa-bangsa penakluk Eropa itu pun, lintasan niaga itu mesti juga ‘diamankan’, terutama ‘dibersihkan’ dari berbagai tindak bajak laut; aksi rompak laut perusahaan negara tertentu;44 serta mengantisipasi manuver musuh yang sewaktu-waktu menyerang daerah dudukan

Penting dinukilkan di sini, detil motif hubungan yang terkembang antara dua aktor penguasa kolonial asal Eropa, yakni bangsa Spanyol dan Belanda. Kedua pihak ini, tercatat sejak medio abad ke-16 hingga medio abad ke-17 adalah dua bangsa yang bermusuhan. Di daratan Eropa, bangsa Belanda mengangkat senjata (sejak 1568) hendak membebaskan negerinya dari kungkungan penjajahan Spanyol.

Dalam latar permusuhan keduanya, secara tidak terduga Raja Spanyol Philip II pada tahun 1580 berhasil merebut kursi tahta dan menjadi pewaris mahkota Raja Portugis. Fakta ini sontak membuat Spanyol dan Portugis melebur jadi satu kebijakan. Memang tidak terhindarkan, maklumlah pemimpin paling ujung kerucut dua negara itu bertemu pada satu pribadi yang sama. Dua mahkota di satu kepala.

Akibatnya, kebijakan negara Portugis dipandu harus harmonis dengan kebijakan negara Spanyol . Terutama untuk kebijakan luar negerinya, Portugis harus mencontek kebijakan Spanyol. Yang secara operasional berarti, semua musuh Spanyol serta merta harus menjadi musuh Portugis. Karena itu, berbagai hubungan dagang Portugis dengan Belanda ikut terkena dampaknya. Meski Belanda sudah puluhan tahun menjadi mitra dagang rempah-rempah Portugis ke pasar Eropa, namun hal itu harus dihentikan. Belanda harus disisihkan karena merupakan musuh Spanyol. Portugis pun akhirnya melarang kapal-kapal Belanda berdagang rempah-rempah di pelabuhan utama Portugal di Eropa, Lisabon.

Tekanan dua bangsa Iberia itu tak nyana malah memicu Belanda mengambil prakarsa melakukan pelayaran sendiri langsung ke pulau-pulau rempah di Nusantara. Dan sebagaimana uraian pelajaran sejarah, Belanda mampu membuktikan diri sebagai pesaing utama Portugis dan Spanyol. Bahkan sesudah itu (1602-1799) Belanda berhasil membangun korporasi dagang terbesar, VOC.

Akhirnya, tahun 1605 Belanda mampu mengusir ‘bekas partner dagang lamanya’, Portugis, dari pulau-pulau Maluku. Belanda lantas mengikat persahabatan dengan Kerajaan Ternate (1607), untuk melawan Spanyol/Portugis di Tidore dan berhasil merebut benteng dua bangsa Iberia itu di Tidore.

Perseteruan bangsa-bangsa Eropa di benua mereka tidak terhindarkan ikut terbawa ke wilayah rambahan mereka di Asia. Secara khusus, di Nusantara, persaingan itu mewujud jadi kompetisi licik perdagangan rempah-rempah dan persaingan licin perebutan teritori-teritori strategis.

Bahkan kobar persaingan itu terjadi turut ‘diminyaki’ persaingan misi keagamaan. Spanyol dan Portugis adalah penguasa dengan latar Katolik, sedang Belanda (di samping Inggris, Jerman dan Swiss) adalah wilayah basis gerakan reformasi Protestan Eropa. Gerakan reformasi dalam tubuh gereja di Eropa berhasil membuka alasan baru pertarungan bangsa-bangsa Eropa. Yakni, antara pihak yang pro-reformasi gereja melawan bangsa-bangsa Katolik dengan barisan militan kontra-reformasinya.

Pertentangan di aras agama ini pun menjadi satu alasan pertentangan bangsa-bangsa Eropa di wilayah rambahan barudi Nusantara Indonesia dan scara khusus di area lokal Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Nusa Utara.

Motif persaingan agama menjadi lebih rumit lagi karena di daerah-daerah Nusantara pun sudah masuk agama samawi yang lain, yaitu Islam. Agama ini di Indonesia Timur, yakni ke Ternate dan Tidore, masuk lewat jalur siar Islam dari pulau Jawa dan gencar disebarkan ke wilayah-wilayah dekatnya.

Di kawasan SaTaS yang tidak mendapat pengaruh Hindu-Budha, agama Islam dimasukkan lewat pedagang dan elit kesultanan di Maluku Utara. Di Ternate, misalnya, Islam masuk sejak 1480. Khusus untuk kawasan SaTaS juga terdapat jalur Islam lain, yaitu lewat Sulu dan Mindanao, Filipina Selatan.

Dalam hubungan dengan Islam itu perlu dijelaskan bahwa dua bangsa Eropa penjelajah dunia Baru, yaitu Spanyol dan Portugis adalah dua bangsa Eropa yang baru saja merdeka dari kungkungan penjajahan selama 8 abad oleh bangsa-bangsa Islam Moor, Berber dan Arab dari Afrika Utara.

Ensiklopedi Encarta, menyebutkan motif ekspansi Spanyol keluar tanah airnya salah satunya karena hendak mengamankan wilayah-wilayah tetangga dari serangan bangsa-bangsa muslim Afrika Utara. Dengan ekspansi itu aktivitas kapal-kapal Kastilia (Spanyol) dan perdagangan di laut Mediterania dapat dilindungi. Spanyol juga mendukung eksplorasi ke daerah-daerah jauh demi menyebarkan agama Katolik.

Bagi Spanyol, pemeluk Islam secara historis merupakan lawannya. Ada kebencian di hati para reconguista (penjelajah dan penakluk Spanyol) terhadap Islam. Bagi mereka orang-orang muslim bagi orang Spanyol disebut sebagai kaum Moro. Nama itu diambil dari nama bangsa (Moor) penjajah Spanyol yang berasal dari Afrika Utara. Dalam beberapa literatur Belanda yang membahas Sangihe dan Talaud, kata Moro ini juga dapat ditemui, yaitu khusus untuk menyebut penduduk yang beragama Islam.

Meski demikian untuk soal motif, para reconguista Spanyol dan bangsa penjelajah dan penjajah lain jelas tidak datang sekadar didorong motif tunggal agama, namun motif lain yaitu dagang dan perburuan kekayaan.

Motif agama juga menjadi salah satu spirit orang-orang Portugis dalam penjelajahan lintas lautan ke negeri-negeri baru. Orang-orang Portugis dicatat sejarah punya kerinduan untuk melakukan kontak dengan kelompok Kristen Nestorian (di India diinjili oleh murid Yesus, Thomas). Namun motif ini sekadar satu dari tiga daya motivasi kiprah dan sepak terjang Portugis. Para penjelaja Portugis merumuskan misi bercula tiga mereka, yaitu feitoria, fortaleza dan igreja (perdagangan, dominasi militer dan agama Kristen Katolik). Kata igreja itu kemudian diserap menjadi kata ‘gereja’ dalam bahasa Indonesia.

Tiga cula kebijakan sejenis itu dalam masa Belanda dirangkumkan sebagai regeering, handel en zending namun secara internasional kini lebih populer disebut sebagai: gold, glory and gospel (emas, kejayaan dan Injil).

Pengalaman Spanyol dan Portugis dengan bekas penguasa Islam mereka di Eropa menjadi halangan psikologis bagi mereka untuk dekat dan rekat komunitas Islam secara kukuh dan langgeng.

Tak heran Portugis dan Spanyol terlibat berbagai pertentangan dengan kekuatan Islam di beberapa tempat. Spanyol di Filipina, misalnya, terlibat perang panjang berabad-abad dengan bangsa-bangsa muslim pribumi, Moro, di Mindanao. Portugis juga akhirnya berbenturan secara terbuka dengan pasukan gabungan Kesultanan Ternate yang dihimpun Sultan Baabullah yang dendam karena ayahnya Sultan Hairun dibunuh Portugis di sekitar benteng Gamalama tahun 1570. Sebelum itu 60 tahun sebelumnya, Portugis sudah menyerang Kesultanan Malaka (1511).

Jelaslah pada saat Padtbrugge melakukan perjalanannya ke Sulawesi Utara dan Nusa Utara tahun 1677 persaingan multimotif bangsa-bangsa penjelajah asal Eropa di wilayah Utara Nusantara sudah terjadi demikian intens , paling kurang sudah berlangsung selama satu abad.

Di Kawasan SaTaS, sebelum Padtbrugge dilantik gubernur, tahun 1607 dan 1614 kompeni Belanda dan Ternate pernah bersatupadu menyerang Siau dan Sangihe (Kolongan) bahkan pernah Belanda menempatkan satu pasukan kecil di pulau Siau. Namun sesudahnya, Belanda memutuskan mundur ke Maluku yang menjadi daerah fokus kepentingan ekonominya.

Saat perjalanan Padtbrugge dilakukan tahun 1677, kerajaan Siau praktis sudah sebuah kerajaan Katolik. Di pulau ini, baik raja dan rakyat, menurut laporan penginjilan para paderi, sudah dibaptis dan mereka dilaporkan mapan menjalankan ibadah dan ajaran Katolik.Termasuk membangun tempat ibadah dan sekolah.

Pekerjaan misi Katolik di Siau ditapaki pertama lewat upaya padri Portugis Diego de Magelhaes yang membaptis Raja Siau, Posumah dan menyandang nama kristiani Don Jeronimo (atau Hieronimo dan Hironimus) di wilayah kerajaan Bawontehu, yaitu tepatnya terjadi di Manaro, yaitu di sungai besar di wilayah Singkil kini.

Kepergian misi Magelhaes ke Sulawesi Utara 1563 itu terdorong untuk mendahului misi Sultan Khairun yang telah memerintahkan anaknya, Baabullah, membawa Islam ke pulau-pulau Sangihe-Talaud. Kedatangan misi itu, dalam kajian dokumen-dokumen sejarah gereja yang dihimpun J. Makasangkil, terkait dengan permintaan perlindungan Bawontehu dan Siau ke penguasa Portugis di Ternate.

Menurut catatan H.B. Elias pada masa sebelum Magelhaes, yakni di tahun 1516, di pulau Siau pernah singgah kapal Portugis yang penumpangnya sempat singgah dan menggelar ibadah paskah di Passeng (nama tempat ini diambil dari ibadah itu). Ibadah itu bukan saja diperkenankan oleh Raja Siau Pertama, Lokongbanua II, namun juga ikut dihadirinya. Sayang acuan ini kurang populer meski dokumen Katolik juga mengkonfirmasikan hal itu.

Peristiwa pembaptisan massal 1.500 orang di Manado tahun 1563 itu kemudian diikuti aktivitas misi Katolik lanjutan, berupa pembaptisan di kerajaan Kolongan (di Barat pulau Sangihe Besar). Kemudian merambah ke beberapa wilayah Selatan Sangihe Besar. Juga ke wilayah-wilayah yang punya hubungan darah dan pemerintahan dengan Siau semacam Kaidipang, Buol, Banggai, dan komunitas Siau di pesisir Minahasa.

Pekerjaan misi dengan tekun dilakukan para paderi Portugis dan Spanyol, di antaranya oleh Mascarenhas, Coenraads dan Pereira yang datang dari Maluku (Ternate dan Tidore) dan sesudahnya langsung dtangani oleh pusat misi Katolik yang berada di Manila.

Ketika Siau diserang Belanda-Ternate (1614), Raja Siau Winsulangi dicatat sedang menangani pemberontakan di Tagulandang. Demi mendengar Siau telah diduduki Belanda, dia memutuskan menyingkir ke Manila bersama anaknya, Batahi. Pengungsian itu dilakukan karena dia punya hubungan yang kental dengan Spanyol di sana.

Raja Winsulangi pulang kembali ke Siau tahun 1624, saat itu dia merebut kerajaannya dengan dukungan Spanyol. Dalam dokumen Belanda dia sekadar mengambilnya kembali, karena Belanda menyatakan mereka memutuskan meninggalkan pulau itu atas alasan perhitungan untung-rugi. Kala itu memang semua perkebunan dipusatkan di Maluku. Perkebunan pala Siau yang sangat menyolok kini praktis belum ada, maklumlah karena perkebunan pala besar-besaran di Siau nanti dimulai pada masa kekuasaan President Raja Siau Lemuel David tahun 1890.

Tentara Spanyol bertahan di Siau di bentengnya, yaitu Santa Rosa di Ulu (Timur Siau) dan Gurita di Ondong (Barat Siau). Hubungan penguasa Siau dengan Spanyol, yang sama-sama Katolik, terbangun sangat baik. Terbukti dari fasilitasi yang diberikan pihak Spanyol, yaitu kesempatan pendidikan bagi para pangeran Siau. Mereka dikirim ke sekolah Katolik di Maluku, atau ke pendidikan tinggi Jesuit dalam benteng Intramuros Manila.

Fasilitasi semacam itu juga tersedia bagi penguasa Kolongan-Tahuna dan Manganitu. Misalnya, pernah dikecap oleh Tatandan (Raja Tahuna) yang bersekolah ke Universitas Santo Thomas. Salah satu universitas tertua Asia Tenggara di Filipina. Raja Siau Winsulangi sendiri dalam masa pengungsian di Manila di samping menyekolahkan Batahi di Intramuros juga tercatat pernah menyertai gubernador Spanyol di Manila melakukan perjalanan ke Malaka. Dan pada April 1617 dia terlibat dalam pertempuran di teluk Manila saat membela Spanyol mengalahkan armada Belanda pimpinan Laksamana Jan Dircks Lam.


ALASAN PENUNDUKAN SIAU

Bagi kompeni Belanda (VOC), segenap perkembangan Kerajaan Siau selalu diberi perhatian. Karena, kerajaan pribumi ini punya kiblat kekuasaan dan agama ke Spanyol di Manila, Filipina. Hubungan itu resmi dimulai oleh Raja Siau Winsulangi yang mengikat perjanjian dengan Gobernador Spanyol Asia di Manila, Gomez Perez Dasmarinas, 16 Agustus 1593.

Raja Siau progresif ini memang khusus mengunjungi Manila ditemani padri Siau Pater Pareira. Juga turut diantar-dampingi oleh Pater Antonio Marta, yaitu pimpinan misi Katolik di Ternate. Tokoh ini dalam buku Des Alwi disebut sebagai perwira ahli strategi militer Portugis yang sudah menjadi rohaniwan dan juga penulis. Ketika itu, tercatat lobi para rohaniwan sangat kuat ke pemerintah. Buku Des Alwi mencatat mereka praktis lebih berkuasa dibanding audienca (Dewan Pejabat).

Raja Winsulangi mengangkat sumpah pada Raja Spanyol ke raja Spanyol via gobernador untuk 5 butir kesepakatan:

1. Raja Siau akan menawarkan sebuah parang dan perisai hadiah kepada vasalnya.

2. Ia (Raja Siau) akan mengakui para Imam untuk mewartakan Injil.

3. Ia (Raja Siau) tidak akan membangun benteng tanpa ijin. Gubernur boleh membangun lebih dari satu benteng atas ijinnya.

4. Seandainya terjadi perang di daerah Maluku, maka raja akan memberi pelayanan dan bantuan bagi yang mulia Spanyol yang dipertuannya sebagaimana kewajiban vassal.

5. Sebagai imbalannya ia (Raja Siau) memohon bantuan sebagai berikut:, bahwa

seandainya terjadi serangan oleh orang-orang Ternate dan musuh-musuh lainnya maka ia berhak memperoleh perlindungan dan bantuan dari Spanyol. Bahwa yang dipertuan Raja Spanyol akan menanamkan modal sekali lagi bagi raja Siau dan para penggantinya di pulau Siau termasuk Tagulandang dan Sangi Selatan.45

Karena pakta pertahanan bersama ini bagi Belanda, Kerajaan Siau adalah potensi ancaman. Siau adalah musuh, karena merupakan daerah lindungan Spanyol, seteru berat Belanda di Eropa.

Meski dari nilai penting ekonomi Siau kalah dibanding Maluku, namun karena posisinya yang di pinggir wilayah proteksi produksi rempah-rempah di Maluku, Siau dipersepsikan sebagai ancaman serius. Yaitu, berpotensi merusak sistem ekonomi kompeni Belanda yang diberlakukan di Maluku. Perkebunan rempah-rempah di wilayah Siau, jika dibiarkan produksinya jelas akan mengganggu kebijakan kebijakan pembatasan produksi rempah-rempah yang ketat diciptakan Belanda.

Dalam kebijakan khas VOC itu, Belanda hanya mengizinkan rempah-rempah diproduksi di pulau-pulau tertentu. Misalnya, wilayah khusus cengkeh dibatasi di sekitar Ambon, di Hitu, Leitimor dan Oeliassers. Di ketiga tempat itu tercatat pernah disalurkan 1.200.000 bibit cengkih oleh Laksamana Arnold de Vlaming. Selain di tempat-tempat ini, semua tanaman cengkih harus dimusnahkan. Kompeni Belanda menetapkan itu dengan perjanjian yang diikat dengan Sultan Mandarsyah 31 Januari 1652.

Gubernur de Vlaming ini dikenal sebagai tokoh militer Belanda penegak aturan proteksi, yaitu melindungi penanaman di pulau-pulau yang sudah ditetapkan sebagai wilayah atau zona produksi. Sedang, di luar zona proteksi itu, dia dikenal sebagai pemusnah kelas wahid.

Untuk memastikan pembatasan produksi itu efektif, pasukan Belanda secara berkala melakukan perjalanan laut mengelilingi pulau-pulau. Pada saat itulah, dilakukan pemusnahan tanaman rempah di pulau-pulau di luar zona produksi, baik di Maluku maupun wilayah sekitarnya. Ini yang dikenal sebagai hongi tochten atau pelayaran hongi.

Gubernur Laksamana De Vlaming itu merupakan salah satu tokoh penting dalam kebijakan monopoli rempah VOC di Maluku. Meski dia bukan yang memprakarsai pelayaran itu, juga bukan yang mencetuskan kebijakan ini, namun dia adalah pelaksana pelayaran hongi yang dinilai mencapai titik efisiensi nyaris sempurna.

Yang dimaksud, adalah kekejamannya. Yaitu tak segan memusnahkan tanaman, dan secara keji membunuh penduduk serta tanpa pertimbangan perikemanusiaan. Konon rekor kekejamannya, dalam membantai, mengosongkan pulau, merusak pemukiman dan perkebunan penduduk setara dengan capaian sang tokoh idolanya, Jan Pieterzoon Coen.

Ciri kekerasan dalam pelayaran hongi sudah terwujud sejak tahun 1618, yaitu saat dilaksanakannya pelayaran hongi oleh gubernur Arnold de Vlaming dengan pasukannya ke Huamual. Di wilayah ini memang produksi cengkih masih berlangsung, meski jelas tempat ini tidak masuk dalam zona produksi. Hasil rempah itu diperdagangkan secara gelap ke bangsa Eropa, di antaranya ke tempat-tempat seperti Makassar.

Kenyataan di Huamual itu jelas potensial merusak seluruh sistem monopoli yang sedang giat diterapkan di Maluku. Karena itu, para prajurit kompeni dalam ekspedisi hongi di tempat itu, sebagaimana catatan Des Alwi, menghalau penduduk desa dengan kejam, merusak dan membakar bangunan serta menghancurkan semua ladang cengkeh yang ada dekat desa. Dalam pelayaran ini gubernur Arnold de Vlaming memilih jalan lewat pantai Huamual dan Hitu. Dia mendarat di sana-sini sekadar untuk menakut-nakuti orang desa. Membabat. Membakar atau mencabuti pohon-pohon cengkeh.

Serangan ala Huamual ini menjadi model pelaksanaan kebijakan pelayaran hongi sesudahnya. Pada masa damai hongi biasanya dilakukan paling kurang setahun sekali. Sekadar peringatan. Pelayaran itu bisa melibatkan 50 sampai 100 kora-kora yang masing-masing berisi 100 penumpang yang terdiri dari para pejabat Belanda dan Ambon, pasukan VOC serta para pendayung. Artinya, total orang yang terlibat dalam arak-arakan pelayaran hongi ini adalah antara 5.000-10.000 orang.

Kedatangan pelayaran ini di pantai serta merta meramaikan desa pesisir. Perahu kora-kora hongi menjadi pameran kemewahan dan parade kekuatan yang mempesonakan. Bunyi genderang dan gong menyemarakkan gerakan seirama para pendayung perahu. Begitu pun hiasan perahu berupa bendera dan umbul-umbul bak hiasan yang tergantung berkibar-kibar ditiup angin.

Tak pelak, pada saat damai kunjungan hongi itu membuat orang akan keluar rumah menyambut. Namun, pada masa penyerangan mampu membuat orang lari terbirit-birit bersembunyi ke hutan di gunung-gunung.46

Dalam statistik kompeni Belanda pelayaran hongi mencapai hasil mencengangkan dalam urusan merusak tanaman. Misalnya di pulau Makian, Moti, Weda, Maba dan Ternate selang setahun, yaitu dari tanggal 10 Desember 1728 - 17 Desember 1729 berhasil dibabat 96.000 pohon. Kemudian dari 14 Juli 1731 - 27 Juli 1732 dibabat 117000 pohon cengkeh dan pala.

Nah dalam skenario hongi itu, perkebunan-perkebunan rempah di pulau Siau jelas tidak dapat disentuh. Karena, wilayah ini adalah enclave milik Spanyol. Karenanya, pihak Belanda geram saat mendengar pihak Spanyol memutuskan membuka perkebunan cengkih besar-besaran di Siau tahun 1661. Siau memang subur seperti halnya pulau-pulau di Banda. Tanah pulau ini terus menerus diperkaya bahan vulkanik gunungapi Karangetang.

Jelas niat Spanyol di pulau Siau itu menjadi potensi ancaman dan sirine bahaya bagi kebijakan pembatasan produksi dan monopoli produksi rempah-rempah kompeni. Belanda segera membuat kalkulasi cengkih yang potensial ditanam Spanyol di Siau. Sebagai bandingannya, sebuah ekspedisi 1651 ke pulau vassal Ternate, yaitu pulau Tagulandang (luas: 4.925 ha) yang terletak sangat dekat dengan pulau Siau ditemukan 102 pohon cengkih yang sudah berbuah, serta 4.050 pohon belum berbuah. Kemudian Belanda memperkirakan jumlah cengkeh yang bisa ditanam Spanyol di Siau melebihi patokan di Tagulandang itu. Maklum Siau memang dua kali lebih luas dari Tagulandang (9.750 ha) dan punya tanah vulkanik yang sangat subur.

Atas hitungan potensi ancaman ini, muncul niat Padtbrugge sejak dia dilantik gubernur Maluku 1677 untuk segera menundukkan Siau. Dia akan menempuh berbagai cara untuk mencapainya.

Dua tahun sebelumnya, 1675, Kaitjil Sibori naik tahta sebagai Sultan Ternate. Tepatnya, kompeni Belanda-lah yang khusus menjadikannya sultan. Kala itu Kaitjil Sibori itu terkenal dengan julukannya sebagai Raja Amsterdam (Koning van Amsterdam). Julukan itu terkait dengan gaya hidupnya yang sangat kebarat-baratan.

Sultan yang satu ini merasa dirinya Belanda tulen. Bukan semata penampilannya yang mentereng dilengkapi segenap pernak-pernik fashion, dengan gelang perhiasan emas dan permata mencolok, namun terlebih perilakunya yang suka minuman keras.

Buku Des Alwi menceritakan pernah sultan ini dipergoki seorang ulama sedang makan daging babi yang jelas-jelas haram baginya. Juga minum anggur dengan para petinggi VOC. Dia meminta pihak Belanda berbohong ke ulama itu bahwa yang dimakannya adalah daging sapi Westafen nan lezat itu. Sedang, anggur di minumnya sekadar demi menghangatkan tubuh.

Meski demikian, yang mencolok dari sultan yang satu ini adalah masalah-masalah berkaitan dengan perempuan, yaitu kehidupan dengan istri-istrinya. Wataknya tidak stabil, malas dan senang memanjakan diri dan dikuasai nafsu dan suka bertualang yang melibatkan kekerasan. Francis Valentijn menyebutnya ‘’tidak manusiawi dan seenaknya” sebagaimana laporan orang-orang yang dekat dengannya. Di mata para bawahannya dia dicap kejam, curang, namun sekaligus selalu sial.

Cerita konspirasi unik Belanda-Sultan Ternate Sibori untuk menundukkan Kerajaan Siau akan diuraikan di bawah, namun penting diurai duluan analisis persaingan politik dua musuh bebuyutan Belanda dan Spanyol di kawasan Sangihe dan Talaud, secara khusus di kerajaan Siau.

Spanyol adalah penjaga kekuasaan raja-raja Siau. Meski seluruh Maluku, termasuk Ternate sudah diduduki Belanda terakhir menduduki benteng Gammalamma tahun 1663. Pangkalan utama bangsa Spanyol di Asia berada di Filipina. Bahkan nama Filipina sendiri diberi oleh penjelajah Spanyol Lopez de Villalobos tahun 1524, Isla la Filipinas, atau pulaunya Phillip, Sang Raja Spanyol kala itu.

Terhitung sejak 1565 Cebu diduduki permanen oleh Spanyol yang dipimpin Lopez de Legazpi. Kemudian tahun 1571, Spanyol berhasil mengalahkan penguasa muslim Luzon, Rajah Soliman. Legazpi, sang komandan, akhirnya menjatuhkan pilihan Kota Manila sebagai ibukota koloni Spanyol di Asia, karena pelabuhannya yang sangat ideal.

Memang energi Spanyol lebih banyak difokuskan untuk menguasai dan mempertahankan Filipina. Spanyol misalnya di wilayah Selatan Filipina membangun benteng pertahanan di Zamboanga (1635). Benteng ini penting demi mengontrol perlintasan perdagangan laut dari Maluku sampai tahun terakhir Spanyol di Ternate (1663).

Sedang di etape lintasan lain, yaitu di Kerajaan Siau, Spanyol punya benteng pertahanan. Pulau Siau diperlakukan sebagai pelabuhan penghubung dalam alur pelayaran Manila ke Maluku dan sebaliknya.

Pasca 1663 Spanyol punya target di Filipina yang terus diburu, yaitu tekadnya menguasai bangsa-bangsa pribumi di Mindanao dan pulau-pulau Selatan Filipina. Karena itulah terjadi perang Spanyol dengan orang-orang Moro, Mindanao. Sayang perang Moro 333 tahun di Filipina Selatan, tidak menghasilkan penguasaan efektif pihak Spanyol atas teritori Filipina di Selatan.

Meski pihak Spanyol sudah mapan di Filipina, para penguasanya menaruh perhatian besar pada segenap sepak terjang Belanda sebagai ancaman riil kekuasaannya.

Berbeda dengan Spanyol, Belanda justru makin kuat kedudukannya di Utara Indonesia. Khusus di Maluku (1663) dan Sulawesi Utara (1664) Belanda memperkuat benteng pertahanan kayu yang dibangun Simon Cox di pantai Manado agar berfungsi sebagai benteng yang kokoh dan dilengkapi empat bastion serta meriam besar. Benteng ini diberi nama Fort Amsterdam (1666).

Benteng itu diceritakan dibangun pasca Belanda ‘mengusir’ Spanyol dari Minahasa. Meski sebenarnya dalam beberapa dokumen47, pihak Spanyol menyatakan bukanlah tentara Belanda yang menghalau mereka keluar, namun pemberontakan 10.000 rakyat pribumi Minahasa.


SIASAT PADTBRUGGE

Perang di Eropa dan persaingan kekuasaan Belanda dan Spanyol di Nusantara, akhirnya mereda setelah kedua bangsa yang bermusuhan ini sepakat menandatangani Perjanjian Damai Munster (Vrede De Munster) tahun 1648. Lewat perjanjian ini, Spanyol mengakui Negara Persatuan Belanda menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Perjanjian itu turut menentukan batas-batas di wilayah jajahan seberang lautan. Khusus untuk Laut Sulawesi, menurut A.B. Lapian, bagian Utara menjadi wilayah Spanyol dengan pusatnya di Manila, sedang bagian Selatan milik Belanda dengan pusat Ternate.

Perjanjian itu resminya menjadi titik akhir perang 80 tahun. Belanda dan Spanyol sepakat tidak akan menyerang daerah dudukan masing-masing dan berpuas diri saja pada wilayah kota dan benteng yang dimiliki masing-masing sebelum perjanjian dibuat. Ini yang disebut prinsip uti possidentis. Karena prinsip itu, kedua bangsa itu sepantasnya tidak saling merampas wilayah dan benteng serta menundukkan raja-raja sekutu masing-masing.

Terkait perjanjian damai yang dibuat di Eropa itu, pantas ditambahkan apa yang diungkap Alex Ulaen tentang sebuah perjanjian lokal penguasa Belanda dan Spanyol yang juga melibatkan Raja Siau. Pada tahun 1672 Cornellis Francx gubernur VOC di Ternate (1672-1674) bertemu Kapten Andres Serrano (Spanyol) dari benteng Santa Rosa dan Raja Siau Batahi yang disaksikan pater Francisco Meijdes. Pertemuan di benteng Fort Amsterdam Manado ini menyepakati Perjanjian Damai 13 Juli 1673.

Inti isi perjanjian itu sinkron dengan Perjanjian Munster 1648 di Eropa, yaitu pihak-pihak bersepakat tidak akan saling menyerang dalam keadaan apa pun. Perjanjian ini penting bagi keamanan lokal. Terutama menjadi jaminan bagi Kerajaan Siau.

Balik ke cerita safari Padtbrugge ke Nusa Utara, mesti dipahami perjalanan itu dilakukan dalam konteks pasca perjanjian Munster 1648. Termasuk juga perjanjian damai lokal di benteng Fort Amsterdam 1673. Para penguasa kerajaan Belanda di Eropa jelas sangat berniat patuh pada perjanjian itu. Namun, Padtbrugge sang gubernur VOC di Maluku ingin memastikan Siau tidak akan jadi ganjalan bagi sistem monopoli perdagangan rempah VOC Belanda.

Monopoli rempah Belanda di Maluku jelas berpotensi terganggu oleh posisi Kerajaan Siau yang berada di sekitarnya. Kerajaan sekutu Spanyol di Laut Sulawesi itu akan jadi kerikil tajam dalam sepatu Padtbrugge. Karena itu gubernur VOC di Maluku ini sangat keukeuh menundukkannya ke dalam wilayah kekuasaan Belanda.

Tentu Padtbrugge sadar dia tidak bisa gegabah menyerang Siau. Karena bisa saja itu merusak kesepakatan Perjanjian Damai Munster 1648. Pernah tuan-tuan komisaris VOC di negeri Belanda, yang lazim disebut Heeren XVII, sebelumnya mengirim surat tertanggal 15 Mei 1671, yang intinya memberi peluang kompeni Belanda di Maluku merebut Siau. Namun, surat itu meminta agar ‘’menempatkan Siau dengan cara yang setepat-tepatnya di bawah perlindungan kita”48.

Surat itu diduga direspon dengan nada sedemikian itu karena para tuan pemegang saham VOC di negeri Belanda mendapat masukan dari Hindia Belanda tentang tentang sepak terjang Spanyol yang disebut akan membuka perkebunan cengkih besar-besaran di Siau. Juga informasi ihwal perilaku orang-orang Spanyol dari benteng di Siau yang menjarah kelapa di perkebunan-perkebunan di wilayah pulau Sangihe yang telah membuat kompeni rugi hingga 2.500 tempayan minyak.

Dan terutama pasokan info bahwa anggota Jesuit Spanyol bernama Francisco Miendes bersama-sama dengan kawan-kawanya dan 50 orang Filipina akan mendirikan sebuah benteng di Siau.

Isi butir berita terakhir ini pantas diduga informasi sesat, karena Spanyol sudah lama memiliki benteng Santa Rosa di Ulu Lento dan Gurita di Ondong. Apalagi anggota Jesuit yang dituduh itu tak lain adalah rohaniwan Katolik yang dua tahun sesudah surat itu justru terlibat dalam penandatanganan perjanjian damai di benteng Fort Amsterdam Manado antara gubernur VOC Maluku Franck dengan Kapten Serrano dan Raja Siau Batahi.


KISAH CINTA BATAHI DAN MAIMUNA

Padtbrugge akhirnya dengan cerdik menemukan siasat bagaimana harus menundukkan Siau sekaligus memenuhi anjuran Heeren XVII itu .

Dia membujuk partner kekuasaannya, Sultan Ternate Kaitjil Sibori, agar bersedia menyerang Siau. Gubernur juga berupaya mempengaruhi dewan kerajaan Ternate agar mengobarkan perang melawan Siau. Jelaslah itu demi kepentingan Belanda. Dan, Padtbrugge sendiri bersedia memegang kendali penyerangan. Yang disebut H.B. Elias sebagai panglima.49

Sebelum perjalanan Padtbrugge 1677 itu, pada tahun 1675 Sultan Kaitjil Sibori melaksanakan kunjungan ke wilayah-wilayah vassal-nya di Nusa Utara, Tagulandang dan Sangihe (Tabukan). Perjalanannya itu disokong Belanda. Dalam perkunjungannya itu, sultan menghabiskan waktu empat bulan mengunjungi kerajaan-kerajaan Nusa Utara. Dia disambut meriah di Kerajaan Tagulandang, Tahuna dan Tabukan.

Tagulandang alias Pagensara memang merupakan pulau Nusa Utara terdekat dari Ternate. Kerajaan ini sudah lama merupakan partner Ternate. Islam tercatat masuk Tagulandang dari Ternate. Kerajaan ini bahkan pernah bersama dengan Ternate, Tidore dan Sulu diminta oleh Laksamana Cornelis Speelman mengirimkan perahu dan tentara untuk penyerangan bersama Gowa Juni 1667.

Sejak perjanjian kontrak Belanda dan Ternate 6 Mei 1607 yang kemudian diperkuat Frans Wittert pada Juli 1609, Sangihe dan Pagensara (Tagulandang) disebut sebagai milik Sultan Ternate. Dan dengan merujuk laporan R. de Klerk, J.F. van Mijlendonk dan W.A. Alting ‘’Compagnies regt op de grote Oost”. Menurut laporan itu dalam perjanjian VOC dan Ternate tertulis, ‘’Raja Ternate menyerahkan kekuasaannya kepada orang-orang Belanda dan mengakui mereka sebagai pelindung.”

Di Tagulandang sebagaimana uraian Alex Ulaen yang mengutip Leonard Y. Andaya, Sultan Ternate Sibori yang berkunjung diberi berbagai benda tanda persahabatan seperti porselen, 2 sisir, sebuah musket dan seorang budak.

Adapun kerajaan Limau menyerahkan sebuah ikat pinggang, tembakau, 24 piring porselen besar dan sebuah lantaka kecil, budak perempuan dan sirih pinang. Tabukan memberikan 24 piring porselen dan dua bilah keris emas.Dan sebagai imbalan Ternate memberi kain India dan gelar raja pada beberapa pemimpin tradisional.

Adapun Raja Bataha Santiago di Kerajaan Manganitu yang sudah memeluk agama Katolik dan disebut-sebut sudah terpelajar karena mengecap pendidikan Jesuit di Filipina tidak mau tunduk pada kepentingan Sibori dan Belanda. Malang baginya, karena sikapnya itu dia digantung di tanjung Tahuna oleh Sultan Sibori yang tegas didukung Belanda.

Nasib yang sama dialami Raja Kolongan tahun 1675 saat kunjungan Sultan Ternate itu. Raja ini dibunuh dengan dua orang saudaranya dan 40 orang lainnya. Raja Kolongan itu tetap memihak kerajaan Spanyol sebagai seorang Katolik. Kurang lebih 800 keluarga Kolongan terpaksa melarikan diri dan mengungsi ke ujung Selatan pulau Sangihe yang masuk wilayah kerajaan Siau. Di situ mereka mendirikan kapela untuk misa yang dilayani pater Hieronymus Zebreros SJ.

Pada tahun 1676 untuk perayaan paskah pater Immanuel Espanjol SJ membaptis sebagian besar anak-anak pengungsi dan sejumlah orang dewasa. Di antaranya, seorang saudara Raja Kolongan yang dibunuh Ternate. Setahun sesudahnya, yaitu sebelum penyerangan Siau, Espanjol masih membaptis 770 orang di situ.50

Dalam perjalanan tahun 675 itu, Sultan Sibori tidak mengunjungi Siau. Dia tahu wilayah itu merupakan dudukan Spanyol yang dilindungi Manila. Namun tak lama sesudahnya Belanda mendesaknya menyerang Siau. Belanda tentu tidak perlu membeber ihwal halangan yang dihadapinya terkait Perjanjian Munster 1648 di Eropa.

Muslihat Belanda mengompori Sultan Kaitjil Sibori adalah masalah pribadinya, yaitu terkait dengan istrinya Maimuna, puteri Kerajaan Tabukan di pulau Sangihe. Raja Siau Batahi dicap oleh Padtbrugge telah lancang karena merebut dan kawin dengan Maimuna, putri jelita itu. Padahal, sang puteri sudah sah dinikahkan jadi istri Sultan Sibori oleh Raja Tabukan Udha. Persisnya itu terjadi saat Sibori melakukan kunjungan ke Tabukan 1675.

Makahanap, dengan mengutip catatan W.Ph. Coolhas dalam ‘’De Generale Missiven der V.O.C. Vol. IV (1675-1685)’”, menguraikan ‘’dua tahun sebelum perjalanan Padtbrugge atau saat Sibori alias Koning van Amsterdam naik tahta, sang sultan mengatakan apabila ayahnya adalah separuh Belanda, maka dirinya sepenuhnya Belanda. Kepada Belanda Sibori minta diberikan pengawal terdiri dari seorang sersan, seorang kopral, dan 10 orang prajurit semuanya berkebangsaan Belanda. Ia pergi ke Sangihe tahun 1675 untuk nikah dengan puteri Maimuna dari Tabukan dengan naik kapal Belanda yang khusus disediakan untuknya.”

Dalam buku H.B. Elias dan kisah-kisah lisan di Tabukan dan Siau setelah memboyong Puteri Maimunah ke Ternate, Sang Sultan tidak ‘tidur dengannya‘ malah Maimuna hengkang dijemput kakaknya, Dalero, yang khusus datang menjemputnya di Ternate.

Saat kedatangannya dalam tradisi lisan syair Sasambo disebut terjadi peristiwa tembok istana Ternate roboh. Konon itu terjadi karena kekuatan magis Dalero. Bunyi syair sasambo untuk peristiwa itu adalah:‘’Bansengi Dalero, bukung kota nambo”, (Sorak Dalero, Penjuru Kota Gugur).

Yang jelas Sultan Sibori dalam catatan Des Alwi adalah pribadi yang bermasalah terkait dengan perempuan di haremnya. Urusan rumah tangganya menjadi topik gosip hangat masyarakat. Dia misalnya, pernah memaksa diri menikahi seorang janda Cina di Ternate. Perempuan itu memang dikisahkan punya daya tarik sangat menggoda ,sehingga Sibori tega menggorok leher suaminya. Juga membenamkan ibu mertuanya ke dalam bak mandi hingga tewas, agar sang sultan dapat menikahinya.

Sebelum kejadian tragis itu, masih juga ditulis Des Alwi, istri Sultan Puteri Rooze dari Makassar disebut melarikan dirinya kembali karena takut melihat perilaku sultan. Dari beberan profil Sibori ini dapatlah dimengerti mengapa Puteri Maimuna pun tak tahan bertahan di kedaton Ternate dan ingin pulang ke Tabukan. Hal ini sudah diramalkan Dalero sebelum Maimuna berangkat ke Ternate.

Alkisah, saat berlayar pulang menuju Tabukan itu rombongan Puteri Maimuna singgah di Siau. Tak dinyana, di sana justru Raja Siau jatuh cinta pada Maimuna. Raja ini kebetulan baru saja ditinggal mati istrinya Ratu Dona Anastasia Tatunguan. Ratu yang dalam catatan para paderi disebut sebagai ‘’pribadi yang menjalani hidup yang sangat taat dan kematian layaknya santa itu”.

Gayung cinta Raja Siau Batahi pun bersambut, karena Maimuna ternyata juga jatuh hati pada Batahi. Seorang raja gagah dan perangai yang terpelajar karena alumnus kolese Jesuit St. Joseph Intramorus, Manila. Dan demi memendekkan kisah, setelah Maimuna kembali ke Tabukan, Batahi dengan segala daya ‘menjemputnya’ di Tabukan dan mengawininya di Siau.

Sultan Kaitjil demi mendengar kisah itu di Ternate sontak marah besar. Dia terlecehkan. Belanda langsung menyatakan Raja Siau Batahi itu pantas diberi ganjaran. Karena sakit hati itu, Sultan Sibori tak lagi waspada membaca muslihat Belanda yang gencar ditabur Padtbrugge. Sultan sontak bersedia memerangi Siau.

Sesudah sebuah rapat pengaturan strategi penyerangan di Fort Amsterdam Manado yang dipimpin langsung Padrbrugge ribuan prajurit pasukan berangkat dan tiba keesokan harinya parkir di Tagulandang dan sesudah semua rombongan tentara penyerang terkumpul mereka berangkat menuju Siau.

Terjadilah apa yang kemudian dicatat sejarah sebagai penyerangan ke Siau. Pulau Siau diserang Belanda dengan ‘meminjam tangan’ Sultan Ternate. Pasukan Belanda dalam catatan Elias membantu dengan gempuran meriam dari kapal Belanda ke benteng-benteng pertahanan Spanyol.

Pasukan kerajaan-kerajaan vasal Ternate digerakkan untuk menggempur Siau, yaitu dari Tabukan, Bolaang, Tagulandang dan Tahuna. Juga termasuk dari Kerajaan Bolang Itang yang dalam catatan H.B. Elias dan Hubert Jacobs merupakan wilayah sahabat Siau, baik sebelum masa Spanyol maupun kurun Portugis-Spanyol. Kerajaan Bolang Itang (Kaidipang) sebelumnya itu sudah duluan ditundukkan Padtbrugge dan Sultan Sibori yaitu sebelum keduanya menggelar rapat persiapan penyerangan Siau di benteng Fort Amsterdam, Manado.

Padtbrugge dan Sultan Sibori jelas tidak sulit menundukkan Siau yang sekadar diperkuat seorang Kapten dengan 17 tentara Spanyol dalam benteng Santa Rosa. H.B. Elias juga sempat menyebut penyerangan dilakukan ke benteng Gurita dengan meriam dari kapal Belanda. Dibutuhkan hanya dua hari dan akhirnya Raja Siau Batahi menghentikan peperangan dan dengan cerdik menyatakan penyerangan itu khususnya untuk mengusir tentara Spanyol.


PERJANJIAN-PERJANJIAN PADTBRUGGE

Sesudah perang justru pihak VOC Belanda-lah tampil menandatangani perjanjian (9 November 1677) dengan raja Batahi. Sedang sehari sebelumnya, Sultan Sibori dan penguasa lain sekadar mengikat perjanjian pampasan perang (8 November 1677) dengan Raja Batahi.

Sultan Ternate sangat mungkin menyerahkan Siau ke kompeni sebagaimana butir perjanjian Sultan Ternate dan Belanda pada kasus pendudukan wilayah secara bersama, rakyat yang Kristen menjadi raihan Belanda. Sebaliknya, yang muslim bagian Ternate.

Setelah keberhasilan penundukkan Siau, kepentingan kompeni Belanda leluasa dilaksanakan. Padtbrugge mulai memainkan jurus-jurus diplomasi. Dia membuat butir-butir perjanjian yang harus ditandatangani Raja Tabukan, Raja Taruna, Raja Manganitu, Raja Tagulandang dan Raja Siau.

Perjanjian dengan Kerajaan Siau lebih panjang, yakni 16 pasal, dibanding kerajaan-kerajaan Tabukan, Tahuna, dan Tagulandang yang hanya 13 pasal. Semua perjanjian secara garis besar berisi kewajiban mengakui VOC sebagai satu-satunya kekuasaan yang dipatuhi; pengambilan hak atas tanah oleh pihak VOC; pengaturan kerajaan di bawah kendali VOC; dan keharusan memeluk agama Kristen Protestan serta janji memperlakukan setiap musuh VOC sebagai musuh kerajaan. Sedang sahabat VOC adalah sahabat kerajaan.

Padtbrugge pasca penundukan memperlakukan Raja Batahi dengan hormat. Dalam catatan H.B. Elias disebut Padtbrugge sempat tinggal seminggu di Siau dan kelihatan intens bercakap dengan Raja Batahi, meski sayang Elias tidak tahu persis apa isi percakapannya. Meski pada bagian lain bukunya, Elias menyebut terjadi negosiasi soal isi perjanjian. Batahi memang segera memposisikan penyerangan ke pulau Siau semata untuk mengusir Spanyol sebagaimana dapat disimpulkan dari butir-butir perjanjian.

Buku Brilman berhasil membeber detil penting peristiwa pasca penyerangan. Di antaranya, penyerahan benteng Santa Rosa Spanyol yang direbut Sultan Ternate kepada Padtbrugge. Serta merta pula gubernur VOC Maluku ini menyerahkannya kembali pada Raja Batahi untuk diurus atas nama kompeni. Tapi sebelumnya, nama benteng itu diganti jadi benteng Maetsuyker, sesuai nama gubernur jenderal di Batavia kala itu.Padtbrugge juga menyatakan kesediaan pihaknya mengangkut tentara Spanyol dan para misionaris Katolik ke Manila, via Ternate. Memang harus lewat Ternate agar nampak jelas siapa pihak yang menundukkan Siau.

Yang menarik dalam perjanjian dengan Raja Siau Batahi, sebagaimana diulas Brilman, Padtbrugge meminta dimasukkan pasal tambahan, yang pantas dilihat sebagai upayanya untuk menyembunyikan fakta-fakta penyerangan yang sebenarnya. Mungkin ini yang menghabiskan waktunya lebih seminggu di Siau 1 - 9 November 1677. Karena memang Raja Fransiscus Saverius Batahi adalah pribadi dengan latar belakang pendidikan tinggi . Artinya, tidak bisa dikelabuinya sebagaimana praktik para pejabat Belanda kala itu. Batahi jelas tahu harga dirinya, beberapa tahun sebelumnya dia tercatat pernah mengantar pulang pendeta Montanus ke Ternate. Montanus sengaja melakukan kunjungan ke Siau untuk melihat peluang penginjilan pihak Belanda. Di Ternate kedatangan Raja Batahi disambut tembakan penghormatan meriam benteng Belanda.

Balik ke soal pembuatan perjanjian pasca penyerangan Siau, Padtbugge memang harus melakukan pemutarbalikkan kenyataan di atas kertas perjanjian itu. Yaitu, demi mengantisipasi masalah yang mungkin timbul antara Belanda dan Spanyol di Eropa. Belanda bisa saja dituduh sengaja melanggar butir-butir uti possidentis Perjanjian Damai Munster 1648.

Pada perjanjian itu Padtbrugge minta Siau setuju dengan pasalnya,

‘’Karena kapten Spanyol dan orang-orang Roma Katolik menurut kepentingan dan kemauan mereka sendiri mungkin akan memutarbalikkan secara licik berbagai hal yang telah terjadi di sini pada waktu keberangkatan mereka dan tidak akan menceritakannya menurut yang sebenarnya di Eropa, seperti yang sudah mereka mulakan, begitulah pengertian raja Siau dan semua pembesar kerajaannya, dan telah menghendaki, bahwa akan ada suatu bagian yang menyatakan kebenaran, bahwa berkali-kali gubernur telah mengajak orang Spanyol pada suatu perjanjian persahabatan; tetapi karena sebaliknya kapten Spanyol memberi perintah kepada mereka untuk membunuh orang yang diharapkan akan diberikan kapten tersebut. Raja dan para pembesar kerajaannya juga mengakui bahwa gubernur dengan kapalnya selalu tidak memihak sama sekali, tidak mempedulikan sesuatu, sehingga tidak ada lain dari orang Ternate dan sekutu-sekutunya yang ikut dalam pertentangan itu; bahwa juga raja dan pembesar kerajaannya telah mencari perlindungan dari Yang Mulia Kompeni dan bahwa mereka telah menolak orang Spanyol dan pater-pater, mengusir mereka, karena mereka telah begitu tidak setia dan tanpa alasan yang kuat menyerahkan, meninggalkan dan mengkhianati mereka. Sekalipun gubernur Padtbrugge selalu ‘dengan kapalnya tidak memihak sama sekali’, ‘tidak mempedulikan sesuatu dalam kegiatan perang untuk merebut Siau’, namun sekarang sudah berada di tangan kompeni, jadi ia harus bertindak untuk mengaturnya demi kepentingan atasannya.51

Secara khusus Padtbrugge juga merasa perlu memasukkan ketentuan yang berikut dalam perjanjiannya: ‘’Raja dan pembesar-pembesarnya berjanji segera sesudah penandatanganan perjanjian ini, menunjuk segala pohon cengkih, baik yang di pulau Siau maupun di pulau-pulau sekitarnya, dan di tempat mana pun pohon-pohon itu ditemukan, agar semua dimusnahkan dan ditebang habis dan tidak pernah boleh lagi ditanam, tetapi semua yang ditemukan lagi pada masa mendatang akan dirusakkan dan dimusnahkan.”52

Isi beberapa perjanjian dengan para Raja Nusa Utara jelas menguntungkan kompeni Belanda. Ringkasnya yang diperoleh kompeni yaitu:

(1).Mendapatkan pengakuan ketertundukan raja-raja ke kekuasaan kompeni Belanda secara tertulis yang hendak dipakai sebagai bukti dan pegangan internasional, terutama berhadapan dengan pihak pesaing, Spanyol. Ini mengingat kedua bangsa asing ini terikat Perjanjian Munster 1648 untuk tidak saling mengganggu wilayah dudukan masing-masing.

(2).Mendapatkan jaminan raja-raja dalam menjaga kepentingan monopoli perdagangan rempah VOC di wilayahnya, secara khusus tunduk pada kebijaksanaan untuk memberangus tanaman penghasil rempah seperti cengkih dan pala di luar wilayah Maluku; dan

(3).Mendapatkan jaminan ideologis di Utara itu, yaitu meminta raja-raja wilayah Sangihe dan Talaud terutama Raja Siau untuk menjamin penyebaran agama resmi Kristen Gereformeed sebagaimana yang diajarkan gereja Belanda sesuai dengan keputusan sidang sinode yang diadakan di Dorcrecht tahun 1619.

Bahkan perjanjian Padtbrugge yang diikat dengan Raja Tabukan Fransisco Macaampo dan Raja Tahuna nantinya berguna bagi pihak Belanda saat menghadapi sidang gugatan arbitrasi internasional perebutan kepemilikan pulau Miangas melawan Amerika Serikat yang mengambilalih kekuasaan Spanyol di Filipina. (lihat detil uraiannya pada bab 7). Yang patut diungkap lagi adalah apa yang dilakukan pihak kompeni Belanda terhadap rombongan orang (tentara dan misionaris) yang dijanjikan Padtbrugge akan dikembalikan pihak Belanda ke negara asal atau gereja pengutusnya.

Penulis sejarah gereja Katolik di Indonesia, Dr. Musken, memberi beberan nasib para pater yang diserahkan ke Ternate pasca kejatuhan benteng Santa Rosa, Siau. Ternyata, tiga pater ditahan hingga satu setengah tahun di Ternate. Nanti setelah gubernur Spanyol di Filipina bertanya langsung ke pemerintah Belanda di Batavia barulah mereka dikirim. Bukan ke Manila, tapi ke Batavia 15 Oktober 1679 dengan para pengikut mereka (tentara Spanyol). Keseluruhan rombongan adalah 21 orang.

Di kota pelabuhan Sunda Kalapa ketiga misionaris ini mendapat kesempatan memberikan pelayanan bagi orang-orang Katolik, yaitu para pedagang, matros-matros dan sebagainya.

Akhirnya, “Tanggal 6 Juni 1680 pater Zebreros diperbolehkan berangkat sama-sama dengan empat pembantunya ke Macao. Tanggal 10 Juli 1680 pater Espanol dan pater Turcotti pun meninggalkan Betawi juga dan bertolak ke tempat jajahan Portugis itu pula, yang terletak di pantai Selatan Tiongkok,” begitu tulis Muskens.

Yang patut jadi pertanyaan besar hingga kini adalah kenapa pihak Spanyol tidak membantu Raja Siau sebagaimana perjanjian yang diikat dengan Dasmarinas, tahun 1593. Padahal, raja-raja Siau sejak Winsulangi dan Batahi punya hubungan kental dengan para petinggi Spanyol di Manila termasuk dengan para paderi Katolik. Winsulangi aktif membantu Spanyol baik pada perang di Manila maupun membantu Spanyol saat merebut Ternate kembali tahun 1606.

Tercatat beberapa kali Raja Batahi pernah berupaya menggalang dukungan memadai militer Spanyol saat membaca gelagat Belanda. Batahi sadar kerajaannya adalah target Belanda.

Atas realitas itu, Nico Makahanap, dalam tulisannya menuduh bangsa Spanyol ragu-ragu dan setengah hati. Makahanap menghubungkan tuduhannya itu dengan sikap Spanyol yang meninggalkan benteng Ternate tahun 1663 dan Belanda mendudukinya tanpa pertempuran.

Akibat sikap Spanyol itu, para raja Nusa Utara, di antaranya Raja Tahuna Tatandang yang bahkan pernah belajar di Universitas Santo Thomas Manila, juga Raja Tabukan Gaghuda (Uda atau Yudha) serta Raja Tagulandang Bawias merasa sangat kecewa dan memutuskan serta merta beralih mendekati VOC.

Tahun 1672 (5 tahun sebelum penundukan Siau dalam perjalanan Padtbrugge) sikap setengah hati itu, menurut Makahanap, sudah mulai kelihatan. Karena, saat Raja Batahi memang meminta bantuan, namun yang diberikan pihak Spanyol kepada Raja Batahi hanyalah satu pasukan di bawah pimpinan seorang kapten dan 14 anak buah. Mereka jelas tidak akan berkutik melawan hampir 2000 pasukan Sultan Sibori dan Padtbrugge.

Mungkin keengganan membantu Siau itu dapat diterangkan karena Spanyol sedang mengkonsentrasikan kekuasaannya ke Filipina. Alasan lain mungkin karena Spanyol terlalu yakin Belanda akan taat pada perjanjian Munster 1648. Keyakinan ini pantas dipakai untuk memberi penjelasan mengapa juga tahun 1663 Benteng Gammalamma Ternate diduduki Belanda.

Yang dapat disimpulkan penundukan Siau melenyapkan kerja misi Katolik lebih satu abad. Meski demikian, Katolik tetap diakui tulus bahkan oleh gereja-gereja Protestan sekalipun (yaitu agama dominan yang dianut masyarakat Sangihe-Talaud-Sitaro kini) sebagai pembawa awal kabar baik Injil di Nusa Utara.

Bukan sebuah kebetulan pendeta Brilman dalam bukunya 1938 memberi bahasan agak panjang tentang penundukan Siau terutama ihwal muslihat Padtbrugge. Sikap Brilman, yang diambilnya dalam penulisan soal Padtbrugge dan Siau pantas diduga merupakan pengakuan dan hormatnya atas jasa Katolik. Perkembangan gereja-gereja protestan di Nusa Utara jelas tidak bisa terlepas kerja penginjilan awal pihak Katolik.

Siau kini menjadi wilayah dengan jumlah penduduk protestan yang pada abad ke -19 dibina telaten oleh misionaris F. Keling dan Grohe. Adapun kerajaan Kaidipang dan Bolang Itang yang sangat dekat dengan kerajaan Siau, serta pernah jadi wilayah misi Katolik kemudian jadi wilayah syiar Islam yang gencar oleh Kerajaan Ternate dan sesudahnya oleh penyebar Islam asal Gorontalo. Kini penduduk di Kaidipang dan Bolang Itang dominan muslim, yaitu di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara kini.

Meski demikian hubungan kekeluargaan Siau dan Bolang Itang (Kaidipang) terus berlangsung melampau batas-batas dan prasangka agama. Kawin-mawin berlangsung. Di antaranya, antara tiga puteri kerajaan Siau dengan tiga raja ( Tabukan, Kendahe-Taruna dan Kaidipang).Yang mencolok juga, sesudahnya tercatat pernah dua kali Dewan Kerajaan Siau mengambil raja dari Bolangitang untuk naik tahta di Siau.

Hal lain yang menarik disimak adalah apa yang terjadi pada hubungan Sultan Sibori dan Padtbrugge. Sultan Sibori pasca aksi penyerangannya hanya menerima beberapa pemberian terkait perjanjian 8 November 1677 yang dikutip dari Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum CCCXCIII. Molukken-Siauw (Siaoe) yang dihimpun F.W. Stapel.

Raja Siau sesuai perjanjian itu diharuskan memberikan kepada Sultan Ternate:

- 500 keping porselin

- 50 sabel

- 50 gong

- 50 musket

- 50 kati emas

- 50 budak lelaki

- 1 kora-kora yang membawa semua barang di atas

- ditambah satu lantaka atau meriam kecil.

Pihak kompeni memang secara khusus tidak menyebut memberi hadiah khusus atas jasa sultan. Namun, sultan ternate sejak masa Sultan Mandarsyah diberi tunjangan pribadi 12.000 dan tunjangan kerajaan lainnya oleh VOC dengan tugas utama mengamankan kebijakan monopoli cengkih VOC di Maluku. Tugas itu terutama terkait dengan keharusan memusnahkan tanaman rempah cengkih di wilayahnya.

Namun hubungan Sibori dan Padtbrugge pada catatan sejarah yang lain memburuk setelah sultan sadar dia telah dimanfaatkan Padtbrugge. Dua tahun setelah penundukan Siau Sibori menyatakan tidak ingin lagi melihat muka Padtbrugge di Ternate. Dia melawan Belanda.

Des Alwi menulis kejadian sesudahnya yang menggambarkan hubungan keduanya. Yaitu suatu ketika sultan mengundang gubernur dalam jamuan makan di istananya.

‘’Ketika Sultan mengusulkan bersulang bagi Kerajaan Oranje dan meminta gubernur untuk memerintahkan sepuluh pengawal bersenjatanya keluar dan menembakkan senjata sebagai penghormatan, gubernur pun menolak memberi perintah. Ia (gubernur) merasa pasti sesuai dengan pengakuannya kemudian, bahwa bunyi tembakan itu merupakan isyarat bagi pasukan sultan untuk masuk ke istana dan membunuh orang-orang Eropa dalam pesta itu. Gubernur memberi isyarat dengan kedipan mata kepada istrinya. Wanita itu segera meraih puterinya yang merangkul ibunya seolah-olah kesakitan lalu berpura-pura pingsan sehingga harus dibawa menyingkir dari meja. semua orang Belanda dalam pesta itupun segera keluar dari istana dan kembali ke benteng..”

Hari berikut sesudah kejadian itu, pecahlah pemberontakan yang digerakkan Sultan Sibori. Di istana beberapa serdadu Belanda dibunuh dan sultan menyingkir ke Jailolo bersama istri-istri, anak-anak dan beberapa pengawal. Beberapa pembesar istana malah meminta perlindungan di benteng dan menceritakan rencana sultan.

Sibori akhirnya dapat ditangkap setelah dia ditinggalkan para pengawalnya. Dia dikirim Padtbrugge ke Batavia untuk bertemu Gubernur Jenderal VOC. Di Batavia Sibori dilucuti kekuasaannya dan sekadar diposisikan sebagai raja simbolis. Karena memang semua tindak-tanduknya diawasi Dewan Kerajaan yang dipilih gubernur sendiri.

Gubernur jenderal juga menyatakan dia tidak mau lagi mendengar kericuhan rumah tangga sultan dengan para istrinya, serta mengurangi dukungan keuangan baginya menjadi 2.000 rijkdaalders dari 12.000 rijksdaalders per tahun.


BATAS-BATAS DI UTARA

Perjalanan Padtbrugge di wilayah Utara pulau Sulawesi dan Kawasan SaTaS tahun 1677 mesti disebut berhasil menghimpun dan menetapkan ruang ekonomi VOC. Dalam beberapa dokumen perjanjian para raja Nusa Utara sudah mengakui mereka sekadar penggarap (leenmanen) dari tanah pihak VOC.

Sangat menyedihkan penduduk sesuai perjanjian raja harus melenyapkan tanaman cengkih dan pala mereka tanpa ganti rugi. Padahal Sultan Ternate Mandasyah tahun 1667 mendapatkan tunjangan VOC sebesar 16.000 gulden setahun untuk perannya meniadakan tanaman cengkih di wilayahnya. Jumlah ini masih ditambah 1.500 gulden untuk dibagikan pada berbagai anggota istana. Di samping itu, Sultan Ternate, Sultan Tidore juga menerima 6.000 gulden, Sultan Bacan 1.750 gulden, Sultan Makian 5.000 gulden, Sultan Motir 375 gulden.

Akibat pemusnahan tanaman rempah tanpa kompensasi itu, perekonomian rakyat pulau Sangihe Besar rusak berat. Maka perlawanan pun muncul tahun 1679 di Sawang dan Limau. Pasukan kompeni turun tangan seperti saat mereka menumpas perlawanan rakyat di Maluku.

Di Sawang perkebunan dan pemukiman rakyat dihancurkan. Menurut catatan Coolhaas, di Sawang rumah-rumah penduduk diratakan dengan tanah, sedang pemimpinnya, Datunseke, ditangkap dan dikirim ke Batavia untuk selanjutnya dibuang ke Srilangka.

Limau yang merupakan pendukung Ternate juga memberontak yang segera diatasi Padtbrugge, namun tidak berhasil. Sebulan sesudahnya barulah dengan pasukan yang lebih besar kompeni menyerang. Limau ditundukkan, meski pasukan Sangihe dibantu tentara Jawa dan meladeni Belanda dalam perang terbuka. Menurut catatan Coolhaas, rakyat Limau, baik laki-laki dan perempuan dibunuh seluruhnya.

Sesudah perjalanan Padtbrugge, wilayah kekuasaan VOC di Utara Nusantara kala itu menjadi jelas, yaitu delimitasinya ke wilayah Spanyol di seberang pulau-pulau Sangihe-Talaud -Sitaro.

Pantas dikemukakan bahwa pihak Spanyol masih terus mempersoalkan pengambilalihan Siau itu. Peringatan ihwal pengambilalihan pernah dilayangkan Raja Muda Spanyol A. de Vargas Furtado. Protesnya disampaikan lewat dutabesar Spanyol di Amsterdam, namun ternyata tidak membuahkan hasil.

Nusa Utara yang merupakan wilayah dinamis sudah masuk dalam rengkuhan. Menjadi pentas bagi kepentingan VOC. Nusa Utara jadi tapal batas wilayah VOC, Di sebelah Selatan pulau Sulawesi pada dekade sebelumnya Belanda sudah menundukkan Gowa dan membuatnya menandatangani perjanjian Bongaya. Apalagi, di bagian Timur, di Maluku secara khusus Ternate, sudah bersahabat kental.

Wilayah-wilayah VOC di Nusa Utara pasca penyerangan Siau dapat diklasifikasikan menjadi,

Pertama, wilayah di Laut Sulawesi yang sudah diduduki sebelum Perjanjian Munster 1648. Sebagian di antaranya adalah wilayah Kesultanan Ternate yang diserahkan pada VOC dalam hal ini Laksamana Matelief de Jonge, 26 Mei 1607.

Di wilayah ini pihak VOC belum menyelenggarakan kekuasaan (ekonomi) secara efektif dan terus menerus.

Pada saat naik tahta Sultan Sibori melakukan perjalanan memastikan kekuasaan efektif VOC di Nusa Utara. Secara tegas dia mengikat kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya sudah dikontrakkan dengan VOC Belanda tahun 1607, di antaranya Tabukan dan Tagulandang. Juga memberi daerah baru Tahuna dan Manganitu.

Kerajaan-kerajaan itu secara resmi langsung mengikat perjanjian hukum (lange contract) dengan VOC tanggal 3 November 1677 saat masa perjalanan Padtbrugge.

Kedua, wilayah hasil muslihat penundukan Padtbrugge tahun 1677 bekerjasama dengan Sultan Ternate serta penguasa-penguasa lain yang diajak Ternate dan VOC, yaitu wilayah Kerajaan Siau. Perjanjian hukumnya langsung dikukuhkan Perjanjian Panjang (lange contract) 9 November 1677. Wilayah Siau pantas disebut meluas tak sekadar di pulau Siau namun juga pesisir Minahasa Utara dan di wilayah Singkil Manado. Beberapa tempat lain yang juga merupakan wilayah sahabat Siau adalah Kaidipang, Bolang Itang, dan Buol-Tolitoli serta bagian Selatan pulau Sangihe Besar, misalnya Tamako.

Ketiga, beberapa wilayah yang sudah masuk wilayah kontrak VOC namun karena membangkang harus ditundukkan agar rela menjalankan kebijaksanaan monopoli rempah, yaitu rela memusnahkan tanaman rempah, semacam di Sawang dan Limau. Dengan langkah penumpasan wilayah-wilayah ini baru efektif jadi wilayah kuasa VOC.

Adapun wilayah di pulau Sangihe Besar yang memelihara hubungan kuat dengan penguasa-penguasa pribumi di Filipina Selatan, misalnya Kerajaan Kendahe diikat perjanjian persahabatan.

Belanda mengikat kontrak persahabatan dengan Kendahe lewat Raja Wuisang (Wuysang atau Buisang) dengan memberikan sebuah piring perak pengakuan kekuasaan ‘’Aan Zyne Hoogheid Buisan En Koning Van Kendhar” (Yang Mulia Buisan Raja Kendahe). Jadi bukan penundukkan.

Pasca perjalanan Padtbrugge tidak ada lagi penaklukan untuk pertambahan wilayah VOC lebih ke Utara lagi. Meski dalam catatan dokumen Belanda pernah pada tanggal 10 September 1688 Raja Kendar Wuisang menyerahkan ke VOC haknya atas wilayah Filipina Selatan sebagaimana terekam dalam Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum IX Molukken-Mindanao.

Penyerahan itu untuk sementara dapat disimpulkan tidak ditindaklanjuti dengan pendudukan oleh Belanda secara efektif, karena itu tidak ada lagi pertambahan wilayah kolonial Belanda lebih ke Utara, dari pulau Miangas dan Marore, pasca penaklukan 1677 dan persahabatan dengan Kerajaan Kendahe tahun 1688. Yang jelas pada waktu itu (1677) Spanyol juga belum berhasil menundukkan daerah-daerah Moro (Mindanao dan Sulu) dalam kekuasaannya secara efektif. Adapun sesudah pembubaran VOC bubar tahun 1799 semua wilayah ekonominya dilanjutkan menjadi wilayah negara Hindia Belanda. Dalam masa inipun juga tidak terjadi pertambahan wilayah lebih ke Utara. Kecuali penegasan kepemilikan pulau Palmas pada tahun 1928 lewat putusan sengketa hukum Hindia Belanda versus Amerika Serikat di Permanent Court of Arbitration.

Wilayah itu tidak berubah hingga kini dan menjadi bagian kesatuan wilayah Indonesia.


LANDSTREEK VAN MANADO

Dampak lain perjalanan Padtbrugge adalah dipandunya kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro berkiblat ke wilayah daratan Sulawesi Utara, secara khusus ke Manado. Ini terfasilitasi lewat penataan berbagai struktur pemerintahan kolonial Belanda.

Misalnya, pada tahun 1825 kawasan ini dimasukkan sebagai wilayah Residen Manado dalam gubernemen Maluku. Akhirnya, malah tahun 1859 kawasan Nusa Utara masuk ke dalam wilayah Residensi Manado yang tegas terpisah dari Ternate.

Di luar urusan pemerintahan, kiblat pendidikan juga dirubah ke Manado. Sebelumnya, orientasi pendidikan Sangihe-Siau adalah ke Ternate dan Manila (Spanyol) yang dirintis para raja: Raja Siau Winsulangi, Raja Manganitu Tolo dan Raja Tahuna Tatehe. Pun demikian orientasi agama Kristen Protestan beralih ke pusat-pusat misi Belanda di daratan Sulawesi via Manado.

Perdagangan dan hubungan kekerabatan juga beralih ke Manado. Pula kegiatan perdagangan yang dulu dilakukan dalam arus utama perdagangan (mainstream), kini sebagai wilayah perbatasan dibuat berciri pinggiran (periphery). Semua jalur perdagangan ke wilayah Spanyol dan Ternate resmi terhenti dan dialihkan ke Manado. Bahkan hubungan dengan Ternate praktis berhenti.

Kini, pasca masa kemerdekaan Indonesia, kegiatan rakyat berdagang ke negara Filipina dicap penyelundupan. Perdagangan perbatasan meski secara retoris diberi kesempatan, tetapi dibebani berbagai pembatasan, yaitu baik volume dan nilai yang dapat diperdagangkan serta batasan arealnya.

Untuk menunjang arah trend ke Manado itu, sejak abad ke-17, kapal uap pemerintah kolonial Belanda di abad ke-19 menyusun rute-rute pelayaran penumpang dan barang mendukung penguasaan teritorial itu. Khusus untuk wilayah Sulawesi Utara, pelayaran di Kawasan Sangihe-Talaud-Sitaro diorientasikan ke Manado sebagai subsistem dari sistem pelayaran Hindia Belanda yang berpusat di Batavia. Misalnya pelayaran maskapai kapal Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij).

Tren orientasi ke Manado itu jelas dapat ditunjuk awalnya pada perjalanan Padtbrugge yang disebut David Henley, bahwa kawasan Nusa Utara dijadikan bagian dari landstreek van Manado.53 Artinya sekadar perpanjangan daratan Manado.

Ciri-ciri kepulauannya yang terbuka selama berabad-abad akhirnya ditinggalkan dan dipatok sebagai daerah perbatasan. Dan sejak masa kemerdekaan hingga 2003 artinya menjadi daerah belakang semata. Ini membuat Nusa Utara menjadi kawasan pinggiran jauh dari lintasan ekonomi. Jadi terpencil dan tertinggal. Pendekatan-pendekatan yang makin berciri kontinental dari negara Hindia Belanda terus diterapkan Indonesia di kawasan Nusa Utara.

Dengan gerak yang terbatas ke satu sentrum maka SaTaS ditakdirkan sebagai periferi. Keuntungan dari proses outsourcing, yakni (memanfaatkan kekuatan-kekuatan luar) dari berbagai arah disurutkan ke titik nadir.

Kekuatan ekonomi bahari sebelum kedatangan Barat sirna lenyap. Bahkan yang terjadi sejak tahun 70-an berbagai sumberdaya utama yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan kawasan SaTaS faktanya dicuri (resources squeezing), misalnya berbagai sumberdaya perikanannya.


CATATAN KAKI

44 Lapian, A.B., 1987, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Disertasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

45 Ulaen, Alex J., 2003, op. cit

46 Alwi, 2005, op. cit.

47 Muskens, M.P.M., 1974, Sejarah Gereja Katolik Indonesia Jilid I Awal Mula Abad ke 14- abad ke 18, Bagian Dokumentasi-Penerangan Kantor Waligereja Indonesia, Jakarta.

48 Brilman, D., op. cit.

49 Elias, H.B., 1973, Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia di Siau, Markas Cabang LVRI Manado.

50 Muskens, 1973, op. cit.

51. Brilman, 2000, op. cit.

52. Brilman, Ibid

53 Henley, David, 1996, Natonalism and Regionalism in A Colonial Context, Minahasa In The Dutch Indies’, David Henley, KITLV Press, Leiden.


0 komentar: