Jumat, 2008 Agustus 22

Sejarah Singkat Kecamatan Tahuna

Kami mendapatkan kiriman istimewa dari Saudara Hanny Dumalang berupa naskah yang berjudul Sejarah Singkat Terbentuknya Kecamatan Tahuna. Naskah tersebut ditulis oleh Bapak A.J.Th. Makaminan, Camat Tahuna pada tahun 1978. Naskah singkat ini kami pandang penting karena mencakup sejarah Tahuna sejak Raja I Tahuna, Ansaawuw Alias Tatehewoba (1580 – 1625) sampai masa pemerintahan Bapak A.J.Th. Makaminan sebagai Camat Tahuna tahun 1978.

Kami publikasikan melalui Website ini seutuhnya berdasarkan tulisan Beliau yang asli. Kami kutipkan sebagian dari kata pengantar dalam naskah tersebut:

"Seperti dimaklumi bersama bahwa hingga saat ini, belum ada suatu literatur khusus yang memuat catatan atau data historis tentang Sejarah terbentuknya Wilayah Kecamatan Tahuna.

Dan apabila suatu saat ada pihak yang memerlukannya, maka tentunya Instansi pertama dan terutama yang akan didatangi, adalah Pemerintah Wilayah Kecamatan Tahuna.

Bertolak dari latar belakang pemikiran tersebut, pada akhirnya mendorong kami untuk mulai menghimpun data dan fakta yang relevan bagi upaya penyusunan sebuah brosur sederhana yang mampu mengungkap catatan atau data historis dimaksud.

Sebab alangkah janggalnya apabila Pemerintah Wilayah Kecamatan Tahuna tidak dapat memenuhi permintaan Pemerintah Tingkat Atas maupun pihak lain yang memerlukan atau datang memintakan data tentang Sejarah terbentuknya wilayah Kecamatan Tahuna itu sendiri.

Itulah sebabnya, walaupun diliputi keterbatasan waktu, tenaga dan dana kami telah berusaha menerbitkan brosur ini yang diberi Judul Sejarah Singkat Terbentuknya Wilayah Kecamatan Tahuna."
The SaTaS Connection memutuskan untuk mempublikasikan naskah ini untuk khalayak umum untuk memenuhi amanah seperti yang dipaparkan sendiri di atas oleh yang bersangkutan. Hak Cipta naskah ini adalah atas nama Bapak A.J. Th. Makaminang.

Kami mengundang semua pihak untuk mendiskusikan naskah tersebut dalam forum The SaTaS Connection.

Naskah Sejarah Singkat Kecamatan Tahuna selengkapnya dapat di-download disini.

Selasa, 2008 Juli 29

Berburu laut dalam puisi

[Tulisan sumbangan]

Sapardi Djoko Damono


Nenek moyangku orang pelaut.”


/i/

Puisi Indonesia modern ternyata tidak banyak mengandung laut. Diksinya dipenuhi dengan bukit, lembah, sungai, langit, awan, dan berbagai jenis flora yang tumbuh di dataran luas dan lereng-lereng gunung negeri ini. Lagu anak-anak yang larik pertamanya dikutip di awal karangan ini tampaknya diciptakan untuk mengingatkan kita bahwa dahulu nenek moyang kita adalah pelaut yang dengan gagah berani menerjang ombak, melintasi pulau demi pulau sehingga menciptakan pepatah – yang oleh Kenneth Burke disebut equipment for living – “sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.” Tentu mereka mengayuh dayung di laut, tidak di sungai. Din negeri yang terdiri atas puluhan ribu pulau ini, laut berfungsi sebagai pemisah sekaligus penghubung masyarakat-masyarakat yang tinggal di sana. Kita terpisahkann oleh laut sehingga masing-masing memiliki ruang bebas untuk mengembangkan kebudayaan dan karenanya kita, lebih dari bangsa lain, menjadi bhineka. Namun, ke-bhineka-an itu sekaligus juga tunggal karena laut menyediakan dirinya untuk diarungi, dijadikan sarana transportasi. Lebih dari itu, laut adalah ladang yang tak perlu digarap bagi nelayan.

Dalam kitab klasik dan dongeng yang diciptakan nenek moyang kita, laut pernah menjadi alasan untuk hidup. Kisah-kisah kepahlawanan Hang Tuah, petualangan Malin Kundang, dan sejumlah kisah tentang perompak lanun membuktikan bahwa kita memang pernah dihidupi dan menghidupkan laut. Tidak hanya dalam karya yang berifat rekaan, dalam kenyataan pun nenek moyang kita pernah menjelajah pulau-pulau sampai Madagsakar dan Semenanjung Harapan; mereka juga pernah berdagang teripang yang dipanen dari perairan Australia Utara untuk dibawa ke Cina; mereka juga pernah saling mengirimkan armada laut dari Ternate ke Jawa – dan mereka juga menciptakan semboyan jalesveva jayamahe ‘di laut kita jaya’ yang kemudian diabadikan oleh Angkatan Laut kita. Tetapi tampaknya semua itu sudah menjadi sejarah; ketika mencari laut dalam puisi modern kita, saya sempat bertanya, “Di mana gerangan laut seperti yang kita temui dalam kehidupan perompak dan pahlawan zaman lampau itu?” Laut, seperti halnya langit, memang sangat sering muncul, tidak sebagai penghayatan tetapi ‘sekadar’ sebagai latar, atau agak lebih jauh lagi sebagai citraan, atau paling-paling sebagai lambang.

Baca selengkapnya: Berburu laut dalam puisi (Sapardi Djoko Damono)

PEREMPUAN BUKAN TAWANAN POLITIK - Interpretasi Kisah Putri Maemuna Kerajaan Tabukan

oleh: Pitres Sombowadile

MEMILIH calon pasangan hidup bukan sekadar soal hidup. Namun, perkara hidup-mati. Ini bukan perkara enteng, apalagi sepele. Karena, perkawinan ibarat membuat peta nasib ke masa depan. Makanya, calon pendamping ke dalam mahligai perkawinan harus diseleksi cermat dan seksama. Soalnya banyak bukti, suami dan istri dalam perkawinan bisa jadi berkat atau kutuk bagi pasangannya. Perkawinan bisa jadi tapak awal ke arah Eden. Namun, jika salah pilih pasangan malah menuju azab sengsara. Bahkan pusara.

Sialnya, bagaimana memilih pasangan yang dapat mendatangkan berkat, sejauh ini, tidak jelas. Demikian pula, bagaimana membaca tanda-tanda pasangan pembawa kutuk. Tak jarang, apa yang kadung diyakini sebagai berkat, ternyata kutuk jua. Apa daya, surga telah jadi bubur. Maksudnya, bubur lava neraka.

Mengantisipasi ketidakpastian itu, di kurun modern penentuan pilihan pasangan ke tahap perkawinan galib diserahkan sebagai wilayah pilihan pihak-pihak yang akan kawin. Ini kebijaksanaan khas zaman modern. Karena memang, jelas keduanya, baik calon pengantin laki maupun yang perempuan jualah yang akan menjalani dan mengalami langsung segenap detak-detik takdir langsung perkawinan itu.

Bagi perempuan modern kini, biasanya, pilihan itu dominan akan didasarkan pada kualitas relasi batin dengan calon suaminya. Relasi itulah yang lazim disebut, cinta. Yaitu, paduan unik jatuh hat, simpati dan empati.

Dalam rumusan lain, di masa modern soal memilih pasangan adalah hak calon pengantin. Hak itu muncul sebagai dampak kebebasan manusia. Sedang cinta tak lain adalah anak kandung kebebasan itu. L’amour est l’enfant de liberté, kata orang Perancis.

Sayangnya kebebasan cinta sebagai hak perempuan merdeka itu tidak dinikmati Maemunah, puteri raja Tabukan nan cantik jelita di abad ke-17. Puteri Maemuna tidak diberi kesempatan menentukan lelaki idaman pendamping hidupnya. Karena dia semata harus tunduk saja pada putusan final ayahnya, Raja Gagudha (garuda) atau dikenal sebagai Raja Udha.

Bagi kita di abad ke-21 kini, nasib Maemuna empat abad lalu itu tak jauh dari takdir perangkap perkawinan yang menjerat seorang tokoh perempuan mulia Indonesia -- yang demikian mentereng disebut oleh W.R. Supratman, Dr. Hurustiati Subandtio dan Pramoedya Ananta Toer sebagai pendekar wanita Indonesia -- yaitu Raden Ajeng Kartini. Puteri Jawa flamboyan dan intelek yang hidup di akhir paruh abad ke- 19. Kartini juga masuk ke lembaga perkawinan atas pilihan orang lain, ayahnya: Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroninggrat.

Jelaslah dulukala memang pilihan kawin, apalagi bagi perempuan, dianggap wilayah otoritas orang lain, yaitu orangtua dan terutama kaum lelaki. Apalagi bagi seorang penguasa semacam Raja Udha di Tabukan. Para raja zaman itu lazim berpikir bahkan putrinya adalah teritori kekuasaannya. Perempuan harus takluk.

Namun apakah Maemunah sekadar berserah pada lilitan nasib diri dan takdir zaman itu? Itu yang jadi pokok berita dan cerita masa lalu ini.


KISAH KEDATANGAN SULTAN SIBORI

Terkisah pada pertengahan 1675 berkunjunglah Sultan Sibori dari Ternate ke istana Kerajaan Tabukan di pesisir Utara pulau Sangihe. Dari laut pasir putih pantai Sahabe depan karatung2 raja Tabukan berkilau diterpa sinar matahari pagi. Puluhan perahu kora-kora Maluku dan beberapa kapal dengan logo besar VOC serta bendera Belanda berkibar di tiang utama muncul di perairan Utara pulau Sangihe.

Istana Tabukan terlihat dari laut. Berdiri di perkampungan Sahabe. Bangunan istana itu berupa rumah panggung besar dengan sebuah tangga depan. Anak tangganya sembilan. Tiang besar penopang rumah panggung itu juga berjumlah sembilan. Istana itu khusus dibuat menampung ratusan orang pada bangsal utamanya. Di belakang istana itulah terlihat pemandangan gunungapi Posong alias Awu Sangihe.

Baca selengkapnya: PEREMPUAN BUKAN TAWANAN POLITIK - Interpretasi Kisah Putri Maemuna Kerajaan Tabukan